Minggu, 18 Februari 2018

Jokowi Ingin Perpusnas Jadi Pusat Jurnal, Biaya Langganannya...

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 14 September 2017 23:00 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi Ingin Perpusnas Jadi Pusat Jurnal, Biaya Langganannya...

    Presiden Joko Widodo meresmikan gedung baru Perpustakaan Nasional yang memiliki 27 lantai dan tertinggi di dunia, 14 September 2017. TEMPO/Istman

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru membuka gedung baru Perpustakaan Nasional, Presiden Joko Widodo sudah membeberkan misinya. Ia ingin menjadikan Perpusnas sebagai pusat jurnal internasional di Indonesia.

    Alasannya agar perguruan tinggi tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa berlangganan jurnal internasional bagi para pelajarnya. Sebenarnya, berapa harga dari berlangganan jurnal internasional?

    "Hal itu tergantung sistem berlangganan dan bentuk jurnalnya," ujar peneliti Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto kepada Tempo, Kamis, 14 September 2017.

    Baca: Jokowi Resmikan Perpustakaan Nasional

    Menurut Haryanto setiap penerbit jurnal internasional umumnya memasang harga berdasarkan bentuk langganannya dan peruntukkannya, apakah akan berlangganan dalam bentuk fisik atau online dan untuk pribadi atau institusional.

    Tarif berlangganan untuk institusional, kata Haryanto, lebih mahal. Sebab, penerbit pasti memperhitungkan berapa banyak yang akan membaca buku. Sebagai contoh, untuk jurnal Media Culture and Society dari penerbit Sage asal Inggris, institusi harus mengeluarkan uang berlangganan Rp 23 juta per tahun. Sementara itu, jika berlangganan untuk individual, hanya perlu membayar Rp 1,5 juta per tahun.

    Namun, ujar Haryanto, ada juga yang memasang harga berlangganan rata untuk institusi maupun individual. Jurnal dari Harvard Business School misalnya, memasang tarif rata Rp 2,2 juta per tahun.

    Simak: Jokowi Minta Dana Desa Digunakan untuk Bangun Perpustakaan

    "Untuk institusi seperti Perpusnas, kemungkinan akan berlangganan dalam bentuk Database Journal. Jadi, untuk jumlah konsumen yang lebih besar. Namun, hanya menyediakan jurnal online," ucap Haryanto.

    Kepala Perpustakaan Nasional Muh. Syarif Bando memperkirakan pemerintah perlu mengalokasikan dana berlangganan jurnal internasional sebesar Rp 50 miliar. Angka tersebut berdasarkan hitungan Perpusnas berlangganan untuk jumlah konsumen yang sangat besar.

    "Kami  sangat berterima kasih jika akhirnya nanti jurnal berbayar, jurnal internasional untuk kebutuhan civitas academica dipusatkan di sini," ujarnyai.

    ISTMAN MP


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Kekuatan Bom Nuklir Korea Utara versus Amerika dan Rusia

    Sejak 2006 Korea Utara meluncurkan serangkaian tes senjata nuklir yang membuat dunia heboh. Tapi, sebenarnya seberapa kuat bom mereka? Ini faktanya.