Sidang E-KTP, Irman Sanggah Kesaksian Bekas Sekjen Kemendagri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, Sugiharto (kiri) dan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Irman seusai menjalani sidang pembacaan dakwaan atas kasus dugaan korupsi pengadaan paket penerapan e-KTP secara nasional tahun 2011-2012 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 9 Maret 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, Sugiharto (kiri) dan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Irman seusai menjalani sidang pembacaan dakwaan atas kasus dugaan korupsi pengadaan paket penerapan e-KTP secara nasional tahun 2011-2012 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 9 Maret 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Irman menyanggah kesaksian mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Diah Anggraini, dalam sidang korupsi e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi hari ini, Kamis, 16 Maret 2017. Irman mengatakan beberapa keterangan Diah tidak benar dan sangat merugikannya.

    Irman membeberkan kesaksian Diah yang dianggapnya tidak benar adalah soal keinginan Diah mengembalikan uang US$ 300 ribu (sekitar Rp 4 miliar). Sebelumnya, Diah mengaku diberi Irman senilai tersebut namun dikembalikan seminggu setelahnya, yakni pada 2013. 

    "Itu bukan seminggu. Keinginan untuk kembalikan uang itu pada 2014," kata Irman kepada majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 16 Maret 2017. Menurut Irman, Diah menerima uang itu pada 2012.

    Baca : Sidang E-KTP, Saksi Bilang Irman Sering Minta Uang ke Andi

    Irman mengatakan keinginan Diah untuk mengembalikan uang itu terjadi setelah Sugiharto, mantan Direktur Pengelolaan Informasi dan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

    Hal ini, kata Irman, diperkuat oleh pernyataan Diah yang pernah meminta Sugiharto menghadapnya setelah diperiksa KPK pada 2014. "Tolong Pak Irman kalau Sugiharto dipanggil KPK tolong hubungi saya. Saya nggak tenang ingin tahu apa yang ditanyakan KPK," kata Irman menirukan Diah.

    Pernyataan Diah lain yang disanggah oleh Irman adalah soal kedekatannya dengan Andi Agustinus alias Andi Narogong, penyelenggara pengadaan proyek e-KTP. Saat bersaksi, Diah mengatakan Irman lebih dekat dengan Andi.

    Baca : Sidang E-KTP, Saksi: Irman Dikejar-kejar Anggota Komisi II DPR

    Irman mengatakan sebetulnya Diah yang lebih dekat dengan Andi. Buktinya, kata dia, Diah pernah meneleponnya dan mengatakan bahwa Andi adalah orang baik yang bisa pegang komitmen. "Padahal saat itu saya baru kenal dengan Andi," ujarnya.

    Selain itu, Irman juga membantah pertemuan di Hotel Sultan yang dihadiri oleh Ketua Komisi II Chairuman Harahap, Irman, Sugiharto, dan Diah. Menurut dia, pertemuan itu hanya dihadiri tiga orang saja. Chairuman tak ikut dalam pertemuan seperti yang disebutkan Diah.

    Keterangan Diah yang merugikan Irman lainnya adalah soal pesan Ketua DPR Setya Novanto yang dititipkan ke biro hukum Kementerian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrulloh. Pesan yang dimaksud adalah permintaan Setya kepada Irman agar mengatakan tidak kenal dengannya jika ditanya oleh KPK.

    "Saya bingung, malam hari jam 10 malam, ada yang sampaikan ngomong ke saya, ada pesan dari Setya Novanto. Pesannya mendesak. Itu akhir 2014. Bu Diah dalam BAP dan pengakuan pesan itu waktu acara BPK Tahun 2013," kata Irman.

    Baca : Sidang E-KTP, Pesan Setya Novanto: Bilang Tidak Kenal Saya

    Selanjutnya, Irman juga menyangkal pernyataan Diah yang mengatakan bahwa untuk usulan konsep tahun jamak (multiyears) proyek e-KTP, Irman menyampaikannya langsung kepada Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi tanpa melalui Diah. Padahal, kata dia, sebelum menghadap Gamawan dia lebih dulu menghadap Diah.

    Terakhir, kesaksian Diah yang dianggap merugikan adalah pernyataan bahwa Irman sering meminta uang kepada Andi untuk diberikan kepada Gamawan Fauzi. Ia mengatakan bahwa kesaksian Diah ini sangat keji.

    "Pak Gamawan tidak akan mau terima uang dan saya tidak pernah minta uang kepada Andi. Jadi kalau dikatakan saya minta uang kepada Andi untuk Pak Gamawan itu merugikan saya," kata Irman.

    Diah masih tetap pada kesaksiannya meski telah mendengar sanggahan Irman. Diah tetap mengatakan bahwa ia mendapat uang dari Irman sebesar US$ 300 ribu pada 2013 dan berniat mengembalikannya sepekan kemudian.

    Baca : Sidang E-KTP, Chairuman Bantah DPR Usulkan Anggaran E-KTP

    Namun, ada satu hal yang ia klarifikasi yakni terkait dengan kehadiran Chairuman dalam pertemuan di Hotel Sultan. "Saya sampaikan ini seingat saya. Kalau ternyata nggak ada Pak Chairuman saya mohon maaf berarti salah ingatan saya," kata dia.

    Terkait dengan pesan Setya kepada Irman, Diah berujar bahwa dia sudah menyampaikan beberapa hari setelah dititipi Setya kepada Zudan. Namun, dia tidak tahu kapan Zudan menyampaikan kepada Setya Novanto.

    Ihwal Irman yang suka minta uang kepada Andi. Diah mengatakan ia hanya meneruskan keluhan Andi yang disampaikan kepadanya. Mana yang benar, ia mengatakan tidak tahu.

    MAYA AYU PUSPITASARI

    Video Terkait:

    Dituduh Terima Duit E-KTP, Melchias Markus Laporkan Andi Narogong ke Polisi
    Mendagri Tjahjo Kumolo Menjawab Pertanyaan Netizen soal E-KTP
    Kasus E-KTP, Gamawan: DPR Yang Inginkan Proyek Ini Gunakan APBN
    Kasus E-KTP: Eks Sekjen Kemendagri Akui Bertemu Setya Novanto Bersama Dengan Terdakwa
    Eks Sekjen Kemendagri Akui Terima Uang 500 US Dollar Dari Irman dan Andi Narogong


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.