Pilkada Serentak, Netizen Meledek Praktik Serangan Fajar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga kampung Tanjungsari, Pedurungan, Semarang memasang spanduk bertuliskan sindiran untuk partai politik yang melakukan serangan fajar jelang Pemilu (7/4). Warga menolak berbagai bentuk pemberian jelang Pemilu. TEMPO/Budi Purwanto

    Warga kampung Tanjungsari, Pedurungan, Semarang memasang spanduk bertuliskan sindiran untuk partai politik yang melakukan serangan fajar jelang Pemilu (7/4). Warga menolak berbagai bentuk pemberian jelang Pemilu. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta -  Para pengguna media sosial sudah berkicau di Twitter sejak pagi, menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 101 wilayah di Indonesia. Pilkada juga akan digelar di Jakarta pada Rabu, 15 Februari 2017 ini.

    Para netizen berkicau hal-hal jenaka terkait tradisi pilkada, yakni serangan fajar. Meski melanggar undang-undang, di sejumlah daerah praktik ini ditengarai masih terus dilakukan sejumlah pasangan calon kepala daerah.

    "Sengaja gak pake tidur, nunggu serangan fajar Pilkada Pekanbaru sama Kampar, Meski KTP Tembilahan, Siapa tau mereka khilaf," kata akun @jabengs dengan jenaka. "Barusan ada yg ngetok pintu, kirain serangan fajar, eh ternyata kamu, dan yg diketok pintu hatiku #eaaa #krikkrik," kata dia menambahkan.

    "Selamat pagi," cuit seorang netizen lain @yudnaval_09. "Tentukan pilihanmu anak muda, ehh situ punya KTP daerah sini, pantas serangan fajar tdk ada."

    Mereka dengan gaya jenaka membeberkan kesediaan menerima serangan fajar. "Menerima serangan fajar dari paslon manapun dan dapil manapun dengan tangan terbuka dan lapang dada. Gua di Jakarta," tulis akun bernama @salmaenofficial.

    Banyak netizen bergurau akan adanya serangan fajar dari tim pemenangan pasangan calon. Cuitan itu sejauh ini merangkak naik dibicarakan netizen di Indonesia. Hari ini 101 daerah akan menggelar pemilihan kepala daerah.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.