Bupati Banyuasin Ditangkap Setelah Pengajian Naik Haji  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian dikawal oleh sejumlah petugas saat tiba di gedung KPK, Jakarta, 4 September 2016. Bupati Banyuasin dibawa ke KPK usai dibekuk dalam Operasi tangkap tangan (OTT) di kediamannya di Banyuasin oleh KPK. TEMPO/Amston Probel

    Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian dikawal oleh sejumlah petugas saat tiba di gedung KPK, Jakarta, 4 September 2016. Bupati Banyuasin dibawa ke KPK usai dibekuk dalam Operasi tangkap tangan (OTT) di kediamannya di Banyuasin oleh KPK. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.COJakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Basaria Panjaitan mengungkapkan detik-detik operasi tangkap tangan yang dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, pada Ahad, 4 September 2016. Salah satu orang yang ditangkap dalam operasi tersebut adalah Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian.

    Menurut Basaria, operasi dilakukan setelah lembaganya mendapat laporan dari masyarakat tantang adanya penyalahgunaan kewenangan oleh Bupati Yan Anton terkait dengan proyek di Dinas Pendidikan Banyuasin. “Yan butuh dana, lalu dia ijon dengan pengusaha untuk proyek Dinas Pendidikan," kata dia di kantornya, Senin, 5 September 2016.

    Baca: Bupati Banyuasin Ditangkap, Golkar Tunggu Putusan Hukum

    Basaria mengatakan operasi pertama dilakukan pada Ahad, 4 September 2016, di Palembang. Sekitar pukul 07.00 WIB, penyidik antirasuah menangkap Kirman, yang diduga sebagai pengepul dana. Kirman diduga selalu menjadi penghubung antara pengusaha dan pejabat. Pada pukul 09.00 WIB, penyidik bergerak ke kediaman Sutaryo. Setelah itu, penyidik pergi ke rumah dinas Bupati Yan Anton.

    Sampai di sana, ternyata ada pengajian untuk keberangkatan haji. Yan dan istrinya berencana pergi haji pada 7 September 2016. Penyidik pun menunggu hingga pengajian selesai. Begitu bubar, Yan beserta Umar dan Rustami ditangkap. Di saat yang sama, penyidik menangkap Zulfikar di salah satu hotel di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara.

    Dari tangan Yan, penyidik menyita uang Rp 299,8 juta dan US$ 11.200 (setara dengan Rp 147 juta). Di tangan Sutaryo, penyidik menemukan uang Rp 50 juta. Selanjutnya, di tangan Kirman, penyidik menyita bukti setoran biaya haji dari PT TB senilai Rp 531,6 juta. Basaria menduga pemberian uang dan fasilitas haji itu berasal dari Zulfikar. Sebagai gantinya, Yan akan memberikan proyek di Dinas Pendidikan Banyuasin.

    Baca: KPK Tetapkan 6 Tersangka Suap Proyek Pendidikan Banyuasin

    Dalam perkara ini, KPK menetapkan enam tersangka. Mereka adalah Direktur CV Putra Pratama Zulfikar Muharami, Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian, Kepala Sub-Bagian Rumah Tangga Pemerintah Kabupaten Banyuasin Rustami, Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin Umar Usman, Kepala Seksi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Banyuasin Sutaryo, serta seorang pengusaha bernama Kirman.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.