Amankan Lebaran, Menteri Luhut: Aparat Akan Jaga Bandara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membuka acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah mengumumkan bukti-bukti pelanggaran HAM berat peristiwa itu pada 2012. Kajian akademik pun telah dilakukan berbagai kalangan. TEMPO/Subekti

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan membuka acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia telah mengumumkan bukti-bukti pelanggaran HAM berat peristiwa itu pada 2012. Kajian akademik pun telah dilakukan berbagai kalangan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pengamanan masa libur hari raya Idul Fitri sudah dikoordinasi lintas kementerian dan lembaga. Pengamanan akan diperketat di ruang publik yang berpotensi mendapat ancaman berat, antara lain bandara.

    "TNI serta Polri secara tertutup dan terbuka akan ada di banyak bandara. Kalau nanti lihat mereka jalan di sana pakai seragam, itu sudah sesuai dengan perintah," ucap Luhut di depan kantornya, Jumat, 1 Juli 2016.

    Rencana pengamanan ini, menurut dia, sudah didiskusikan dengan Kementerian Perhubungan. Ini karena pusat sarana transportasi akan dipenuhi masyarakat yang bepergian selama masa libur hari raya ini.

    Luhut tidak menampik bila kelompok radikal seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sempat memberi sinyal ancaman, antara lain pada teror bom dan serangan bersenjata di Bandara Ataturk, Istanbul, Selasa lalu. Namun, di dalam negeri, Luhut menuturkan belum ada ancaman berarti yang terlihat. "Sejauh ini, belum ada, karena keberhasilan Polri seperti pada kasus di Surabaya. Itu titik balik yang baik," ujarnya.

    Seperti diberitakan, pada awal Juni 2016, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri sempat menangkap empat terduga teroris yang berupaya meledakkan bom pada 17 Ramadan 1437 Hijriah atau 22 Juni 2016 di Surabaya. Mereka diduga merencanakan serangan yang mirip peristiwa bom di Jalan M. H. Thamrin pada awal 2016. "Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga bekerja dengan baik," tutur Luhut.

    Luhut berharap situasi keamanan di tempat-tempat yang merupakan obyek vital tetap terjaga selama masa libur panjang ini.

    YOHANES PASKALIS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.