Cerita Badrodin Soal Operasi Ketupat Berubah Jadi Ramadaniya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana buka bersama Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti bersama para pemimpin redaksi media di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, 20 Juni 2016. Tempo/Rezki A

    Suasana buka bersama Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti bersama para pemimpin redaksi media di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, 20 Juni 2016. Tempo/Rezki A

    TEMPO.COJakarta - Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti berkisah soal perubahan sandi pengamanan Lebaran, yang semula dikenal dengan Operasi Ketupat kemudian diubah menjadi Operasi Ramadaniya. Menurut Badrodin, pergantian sandi itu berawal dari perintah Presiden Joko Widodo.

    "Pak Presiden minta istilah pengamanan Lebaran jangan pakai nama ketupat lagi. Nama itu sudah lama digunakan oleh kepolisian dari dulu sampai sekarang. Presiden minta supaya dibuatkan sandi baru," kata Badrodin dalam acara buka puasa bersama pemimpin media massa di Mabes Polri, Senin, 20 Juni 2016.

    Alasan Presiden tak bisa dibantah Badrodin. Sebab, sandi Operasi Ketupat memang terbukti sudah sangat lama dipakai. Jika itu terus digunakan, seolah-olah polisi tidak kreatif membuat sandi baru yang lebih pas. Badrodin mengaku sempat bingung mencari nama yang tepat, mudah diingat, cocok dengan kondisi sekarang, serta indah diucapkan. 

    "Kebetulan ada tetangga bernama Ramadaniya. Saya kira cocok untuk nama pengamanan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, yang kalau disingkat menjadi Ramadaniya," tutur Badrodin, yang telah menerbitkan Surat Telegram Kapolri Nomor 381/VI/2016 tertanggal 1 Juni tentang perubahan nama sandi operasi dan rencana operasi pengamanan Idul Fitri 1437 Hijriah itu.

    Pelaksanaan operasi mulai 30 Juni sampai 15 Juli 2016 tersebut meliputi antisipasi potensi gangguan keamanan yang diutamakan di pusat perbelanjaan, pelabuhan, stasiun, bandar udara, dan terminal, serta pengamanan arus lalu lintas. Operasi ini melibatkan 157.115 personel dan 2.782 pos pengamanan. "Itu gabungan dari Polri, TNI, dan satuan kementerian lain," ucap Badrodin.

    Badrodin berpesan, pemimpin Polri bisa berganti setiap saat. Namun pergantian itu tidak boleh mengganggu tugas anggota kepolisian. "Sebab, setiap hari masyarakat menunggu karya nyata polisi, seperti keamanan dan kelancaran lalu lintas," tutur Badrodin, yang masa pensiunnya jatuh pada 24 Juli 2016, saat usianya memasuki 58 tahun. 

    Sebagai pengganti Badrodin, Presiden Joko Widodo telah menunjuk calon tunggal, yaitu Komisaris Jenderal Tito Karnavian. Saat ini Tito menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 

    "Pak Presiden Jokowi orangnya ingin serba cepat. Calon pengganti saya sudah diserahkan ke DPR untuk diuji kelayakan dan kepatutan. Bisa jadi, sebelum Lebaran, saya sudah diganti," ujar Badrodin sembari meminta maaf jika ada kesalahan selama memimpin Polri. 

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kawhi Leonard Angkat Toronto Raptors Menjadi Juara NBA 2019

    Toronto Raptors, dimotori oleh Kawhi Leonard, mengalahkan Golden State Warrior dengan skor 114-100 di Oracle Arena, kandang Stephen Curry dan tim.