Tangis Bahagia Keluarga Sandera Abu Sayyaf di Klaten

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sutomo, menunjukkan foto anak sulungnya, Bayu Oktavianto, 22 tahun, yang bekerja sebagai nahkoda di kapal Brahma 12. Kapal Brahma 12 dibajak di sebuah pulau wilayah Filipina sejak Sabtu sore pekan lalu. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Sutomo, menunjukkan foto anak sulungnya, Bayu Oktavianto, 22 tahun, yang bekerja sebagai nahkoda di kapal Brahma 12. Kapal Brahma 12 dibajak di sebuah pulau wilayah Filipina sejak Sabtu sore pekan lalu. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Klaten - Rahayu langsung berlari menuju rumahnya sambil menjerit kegirangan setelah mendengar kabar anak sulungnya, Bayu Oktavianto, telah berhasil dibebaskan dari cengkeraman kelompok Abu Sayyaf. Rahayu mendengar kabar bahagia itu dalam perjalanan pulang setelah mandi di sungai belakang rumahnya.

    "Ada tetangga yang bilang kalau suami saya baru saja dapat telepon dari perusahaan. Katanya Bayu sudah dibebaskan,” kata perempuan 47 tahun itu saat ditemui di rumahnya di Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada Ahad sore, 1 Mei 2016.

    Bayu Oktavianto adalah satu dari sepuluh awak Kapal Brahma 12 yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan sejak 26 Maret lalu. Kepada PT Patria Maritim Lines, perusahaan tempat para awak Brahma 12 bekerja, kelompok ekstremis itu meminta tebusan 30 juta peso atau sekitar 14,3 miliar.

    Baca juga:
    Kenapa Laba-laba Tidak Terjerat Jaringnya Sendiri? 
    Kisah Ribut Ahok Vs Yusril: Soal Sampah Hingga Sekongkol Rustam

    Sesampainya di rumah, Rahayu mendapati suaminya, Sutomo, masih berlinang air mata haru seusai menerima telepon dari perwakilan PT Patria Maritim Lines Jakarta. “Tetangga segera berdatangan saat mendengar mereka berdua (Rahayu dan Sutomo) menjerit-jerit di rumah,” kata nenek Bayu, Mitro.

    Sutomo, 48 tahun, mengaku mendengar kabar ihwal sudah dibebaskannya sepuluh awak Brahma 12 sejak pukul 14.00. “Siang itu saya ditelepon wartawan dari salah satu media televisi yang bertugas liputan langsung di Filipina,” kata ayah empat anak itu. Namun Sutomo tidak langsung percaya dengan kabar itu.

    Dua jam berselang, saat hendak menunaikan salat Asar, Sutomo menerima telepon dari perwakilan PT Patria. Suara perempuan di ujung telepon itu juga mengabarkan ihwal sudah bebasnya Bayu dan sembilan rekan kerjanya. “Tapi bagaimana proses pembebasannya, berapa besar uang tebusan yang diberikan ke kelompok Abu Sayyaf, itu dirahasiakan,” kata Sutomo.

    Setelah melihat sosok anaknya dalam berita siaran langsung di televisi, Sutomo dan Rahayu sontak bersujud syukur di atas tikar yang sudah digelar di ruang tamu rumahnya untuk menyambut para santri yang rutin berdoa bersama tiap malam untuk keselamatan Bayu.

    “Ternyata benar apa yang dikatakan pihak perusahaan selama ini. Bayu tampak sehat dan bugar. Dia masih gemuk seperti dulu,” kata Sutomo dengan berlinang air mata. Meski Bayu sudah bebas, pengajian rutin yang direncanakan berlangsung selama 40 hari itu tetap dilaksanakan malam ini.

    DINDA LEO LISTY

    Baca juga:
    Kisah Ribut Ahok Vs Yusril: Soal Sampah Hingga Sekongkol Rustam 
    Survei: 9 dari 10 Orang Sungkan Menegur Orang yang Bau Badan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.