Batik Motif dan Ukir Dipamerkan di Festival Kartini 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • A Batik cloth made by Raden Ajeng Kartini an emancipation heroes from Indonesia at Puspa Pesona Wastra exhibition, Jakarta (4/4). TEMPO/Dwianto Wibowo

    A Batik cloth made by Raden Ajeng Kartini an emancipation heroes from Indonesia at Puspa Pesona Wastra exhibition, Jakarta (4/4). TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO, Semarang -  Perajin batik khas Jepara akan meramaikan Festival Kartini IV 2016 dengan memamerkan batik bermotif khas setempat. Karya yang terkait erat dengan Kartini itu akan dipamerkan selama festival pada 8 hingga 20 April mendatang.

    Sejumlah motif batik itu terkait erat dengan inspirasi RA Kartini yang kini belum banyak diketahui publik. “Saya akan memamerkan batik motif Lung Kantil dan Melati Punjer Ati,” kata Yanti Jatmiko, dari sanggar batik khas Jeparaan, Nalendra Galeri, Selasa, 29 Maret 2016.

    Yanti menjelaskan motif Lung Kantil diyakini pernah dibuat Kartini saat mengajar batik di pendopo belakang Kabupaten Jepara era 1879. Hal itu ia ketahui dari dokumen karya batik eyangnya bernama Sucia. “Eyang Sucia menjadi anak didik Kartini langsung untuk belajar membatik,” kata Yanti.

    Ia meyakini batik itu menjadi khas Kartini meski saat itu sang putri penulis Habis Gelap Terbitlah Terang hanya membatik motif Mataraman. Motif khas tinggalan eyangnya dari belajar membatik Kartini itu sudah diuji, yang hasilnya tak sama dengan batik khas Mataraman produksi 1879.

    Yanti menyebutkan meski secara corak warna batik yang diajarkan Kartini khas Mataraman, tapi motifnya beda. Motif Lung Kantil lebih mirip gambar parang dan bunga kantil. Keyakinan motif khas batik yang diajarkan Kartini itu juga dibuktikan dengan sejumlah literatur tulisan Kartini yang menyebutkan sering merenung di bawah bunga Kantil yang tumbuh di belakang pendopo rumah Bupati Jepara. Saat itu pohon bunga Kantil itu menjadi saksi kegelisahan sang putri bupati pendobrak emansipasi saat gundah.

    Selain motif Lung Kantil, Yanti menciptakan motif Melati Punjer Ati yang dinilai hasil terinspirasi Kartini. Motif itu sengaja ia buat saat riset membuat batik berdasarkan fakta hidup Kartini dari dokumen tertulis. Menurut dia, saat sedih Kartini mencari ibunya dan menyatakan “Ibu dalem nyuwun melati ingkang mekar wonten ing punjering ati” yang artinya ingin curhat mengeluarkan isi hati mendapatkan sedikit nasehat yang penuh makna.

    “Melati itu kecil tapi aromanya menyebar ke mana-mana,” kata Yanti yang kini berusia 48 tahun.

    Motif yang artinya permintaan petuah ke orang tua itu bermakna dalam, hal ini menjadi isnpirasi dia menciptakan motif batik yang terkait dengan jiwa Kartini.

    Kepala Bagian Humas, Sekretariat Daerah Kabupaten Jepara, Hadi Priyanto, menyatakan selain batik, festival mengenang pelopor emansipasi itu juga memamerkan desain motif ukir yang dipastikan karya Kartini.

    Hadi menyebutkan sejumlah desain ukir yang dipamerkan di antaranya Lungan Bunga yang diaplikasikan Kartini dari motif batik ke karya ukir kayu. Desain ukir itu membuktikan sikap Kartini saat usia muda telah membimbing sekitar 15 perajin dikumpulkan di pendopo rumah Bupati Jepara di era 1879.

    EDI FAISOL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.