Libur Imlek, Istana Siak Dipadati Pengunjung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Banguanan Istana Siak Sri Inderapura di kota Siak, Riau, 30 Oktober 2014. Istana tersebut dibangun pada tahun 1889 saat masa pemerintahan Sultan Syarif Hasim. TEMPO/Riyan Nofitra

    Banguanan Istana Siak Sri Inderapura di kota Siak, Riau, 30 Oktober 2014. Istana tersebut dibangun pada tahun 1889 saat masa pemerintahan Sultan Syarif Hasim. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Liburan Tahun Baru Imlek menambah jumlah kunjungan wisatawan ke Istana Siak Sri Inderapura, Riau. Ratusan wisatawan tampak memadati Istana. Jumlah tersebut meningkat dibanding hari libur biasa.

    "Kurang-lebih 500 orang mengunjungi Istana Siak hari ini," kata pengurus Istana Siak, Zainudin, Ahad, 7 Februari 2016.

    Zainudin menyebutkan meningkatnya jumlah pengunjung ke Istana Siak dipengaruhi libur weekend yang disambung dengan libur Imlek pada Senin, 8 Februari 2016. Masyarakat jadi memiliki waktu yang panjang untuk menikmati hari libur. Belum lagi kebanyakan pegawai negeri dan swasta sudah libur sejak Sabtu lalu.

    Menurut Zainudin, pada hari libur biasa, kunjungan wisatawan yang dikemas dalam wisata religi dan sejarah ini biasanya hanya berkisar 150 orang. Sedangkan pada hari biasa umumnya pengunjung adalah murid sekolah yang ingin belajar sejarah soal Kerajaan Siak.

    Di Istana Siak, warga disuguhi cerita sejarah kejayaan kerajaan melayu. Berbagai bukti sejarah di pajang di setiap sudut istana, baik foto-foto keluarga Sultan Siak maupun perlengkapan Istana Siak.

    Di Istana Siak, banyak peninggalan yang masih terawat dengan baik, seperti meriam yang berada di setiap sudut Istana Siak, kapal raja yang kerap digunakan Raja Siak berlayar, kursi Raja Siak yang terbuat dari emas, pakaian Raja Siak lengkap dengan mahkota, dan pakaian permaisuri.

    Tak kalah menarik, sebuah alat musik sejenis gramofon yang disebut komet juga masih terawat dengan baik. Konon, alat musik ini hanya ada dua di dunia. Satu komet lagi berada di Jerman. Namun hebatnya, komet milik Raja Siak hingga kini masih berfungsi. "Kabarnya, komet di Jerman sudah tidak berfungsi," kata Zainudin.

    Alat musik berupa piringan yang terbuat dari baja terpajang di sebuah lemari berukuran 3 x 1 meter. Dentingan melodi mirip suara piano dengan alunan instrumen klasik karya komponis Jerman abad VIII yang terkenal, yakni Ludwig van Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Richard Strauss.

    Menurut Zainudin, komet tersebut dibawa Raja Siak XI bernama Sultan Assyaidis Syatif Hasim Abdul Jalil saat melawat ke Jerman. Komet dibawa dari Jerman menggunakan kapal milik Ratu Belanda Wilhelmina sampai Singapura. "Dari Singapura, komet dibawa menggunakan kapal Sultan sampai ke Siak."

    Tidak hanya itu, masih ada lagi beberapa gramofon yang terpajang di setiap sudut ruangan, tapi dalam bentuk ukuran kecil.

    Menurut Zainudin, Sultan Syarif Hasim cukup dekat dengan Ratu Wilhelmina. Selain karena hubungan perekonomian dan perdagangan, keduanya dekat lantaran menuntut ilmu di sekolah yang sama di Belanda. Begitu dekatnya, Ratu Wilhelmina menghadiahkan Sultan Siak sebuah patung kepala sultan yang terbuat dari batu pualaman dan dihiasi berlian di bagian matanya.

    Patung tersebut menjadi peninggalan fenomenal di Istana Siak yang hingga kini masih terjaga dalam sebuah estalase kaca di sudut ruangan.

    RIYAN NOFITRA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.