Benedict Anderson, Dosen yang Suka Traktir Makan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang bekas mahasiswa mendiang ahli Indonesia, Benedict Anderson, berbagi kisahnya tentang Ben. Semasa mengajar di Universitas Cornell, Amerika Serikat, ia dikenal sebagai dosen yang ramah, mudah akrab, dan sederhana.

    Pendiri GAYa Nusantara, Dede Oetomo, mengatakan dia merupakan mahasiswa bidang linguistik di Universitas Cornell pada 1978-1984. Dede mengambil kelas minor kajian Asia Tenggara yang diampu Ben.

    “Dua tahun terakhir waktu nulis disertasi, beliau salah satu pembimbing saya,” ucap Dede saat dihubungi Tempo, Minggu, 13 Desember 2015.

    Meski memiliki ilmu dan wawasan yang luas, Ben bukan dosen killer. “Kalau ada kritik buat teks saya, selalu ada solusinya, misalkan saya disuruh baca ini, belajar lagi. Enggak justru disalahkan lalu ditinggal,” ujar Dede.

    Dede mengambil mata kuliah Ben hanya satu kali. Namun komunitas kajian Asia Tenggara itu berkesan baginya. Ia menuturkan dosennya itu sangat menjaga nuansa kekeluargaan dan tak pelit berbagi ilmu.

    Mahasiswanya sering diundang makan bersama di rumahnya di Slaterville, desa yang berjarak 5 kilometer dari Ithaca, New York, tempat Universitas Cornell berada. “Kami, mahasiswanya, sering diundang ke sana, makan-makan bareng dan bikin pesta dansa,” ucapnya.

    Dede pernah didapuk menjadi disk jockey (DJ). “Salah satu penyanyi favorit Pak Ben adalah Michael Jackson, yang waktu itu masih di Jackson Five,” tuturnya.

    Setelah tak lagi menjadi mahasiswanya, Dede masih terus menjaga komunikasi dengan Ben. Ia menyebutkan beberapa kali pertemuannya dengan Ben Anderson, seperti di Bangkok tahun 1997, Thailand, dan Surabaya pada 2002. “Pertama kali melihat mahasiswa di FISIP Universitas Airlangga mendengarkan ceritanya, ruangan jadi penuh sesak.”

    Sebagai mantan mahasiswa Ben, Dede mengaku mendapat banyak pelajaran dari sikapnya. “Saya belajar dari dia, dari ketegasan dan keteguhannya menyatakan apa yang benar. Bayangkan, waktu itu selama 27 tahun, dia enggak boleh masuk Indonesia.”

    Karena kritiknya terhadap Orde Baru, ia dideportasi dan dilarang masuk ke Indonesia. Ben, menurut Dede, memulai dari nol lagi dengan mengkaji Thailand. “Tapi kecintaan pertamanya tetap Indonesia, kok.”

    Profesor emeritus dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, itu meninggal di sebuah hotel di Batu, Malang, Sabtu malam, 12 Desember 2015.

    Sambil menunggu keluarganya datang, jenazah Ben Anderson kini disemayamkan di Rumah Persemayaman Adi Jasa, Surabaya. Upacara penghormatan atau tutup peti akan dilaksanakan Selasa, 15 Desember 2015, sekitar pukul 09.00 WIB.

    ARTIKA RACHMI FARMITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?