Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dimulai 2016

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perusahaan kereta api asal China, China Railway Corporation menggelar pameran Kereta Api Kecepatan Tinggi miliknya di Jakarta, 13 Agustus 2015. Pameran tersebut mengambil tema `Kereta Api Kecepatan Tinggi Tiongkok yang Berkembang Pesat` TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Perusahaan kereta api asal China, China Railway Corporation menggelar pameran Kereta Api Kecepatan Tinggi miliknya di Jakarta, 13 Agustus 2015. Pameran tersebut mengambil tema `Kereta Api Kecepatan Tinggi Tiongkok yang Berkembang Pesat` TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Pilar Sinergi BUMN Indonesia, Hanggoro, mengatakan proyek pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung akan dimulai awal triwulan kedua tahun 2016.

    "Saat ini kami sedang menunggu penerbitan izin amdal yang prosesnya masih berlangsung di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan," kata Hanggoro di Bandung, Selasa, 24 November 2015.

    Persyaratan lain yang masih dalam proses, menurut dia, adalah rekomendasi pelaksanaan proyek dari Gubernur Jawa Barat dan Gubernur DKI Jakarta.

    "Alhamdulillah Pak Gubernur Jabar sangat support dalam persiapan proses pembangunan kereta api cepat," katanya.

    Semua persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan proyek tersebut ditargetkan sudah terpenuhi April tahun depan.

    "Kami targetkan pada April sudah selesai semua, jadi groundbreaking bisa dilakukan," ujar dia.

    Ia mengatakan nantinya kereta cepat buatan Cina akan melintasi jalur yang dibangun dari Kawasan Gede Bage, Padalarang, menuju Kota Baru Walini dan berakhir di kawasan Halim Perdanakusuma, DKI Jakarta.

    "Sebagian besar jalurnya akan menggunakan pinggiran tol," katanya.

    Ia mengatakan penyelesaian proyek itu membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.

    Menurut hasil pra-studi kelayakan dari konsultan Tiongkok, ia menjelaskan, proyek pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta ditaksir membutuhkan dana sekitar 5,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp70 triliun.

    Ia menambahkan sekitar 75 persen pembiayaan berasal dari China Development Bank dan sisanya ditanggung oleh empat badan usaha milik negara yang tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN.

    Pilar Sinergi BUMN meliputi PT Wijaya Karya, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.