Penutupan Bandara Sultan Babullah Ternate Diperpanjang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara. TEMPO/ Bernard Chaniago

    Bandara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara. TEMPO/ Bernard Chaniago

    TEMPO.CO, Ternate - Otoritas Bandara Sultan Babullah Ternate memilih memperpanjang penutupan bandara hingga Minggu 19 Juli 2015. Kebijakan ini diambil lantaran aktivitas Gunung Gamalama tercatat masih mengalami peningkatan dan terlihat mengeluarkan abu vulkanik hingga setinggi 800 meter.

    Taslim Badarudin, Kepala Bandara Sultan Babullah Ternate mengatakan, berdasarkan notice to airmen nomor C0580 dari Kementerian Perhubungan, Penutupan Bandara Babullah Ternate akan dilakukan hingga Minggu esok pukul 17.00 WIT. Penutupan itu dilakukan, lantaran aktivitas Gunung Gamalama dinilai sangat berbahaya untuk aktivitas penerbangan dari dan ke Ternate.

    “Bandara akan dibuka kembali setelah kami mendapatkan laporan kalau aktivitas gamalama sudah aman untuk penerbangan. Selama gamalama masih keluarkan asap tebal, maka bandara masih akan ditutup. Jadi pembukaan kembali bandara tergantung aktivitas gunung Gamalama,”kata Taslim kepada Tempo, Sabtu 18 Juli 2015.

    Menurut Taslim, dampak Gunung Gamalama yang mengakibatkan penutupan Bandara Sultan Babullah Ternate, setidaknya membuat empat maskapai penerbangan seperti Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Wings Air, dan Expres Air, membatalkan semua rute dari dan ke Ternate. Selain itu, erupsi gunung Gamalama juga membuat aktivitas jasa pengiriman barang melalui Bandara Babullah Ternate terhenti.

    “Aktivitas Gunung Gamalama juga membuat waktu libur petugas Bandara di Ternate terpaksa diperpendek. Kami juga sudah mulai meningkatkan aktivitas pemantauan terhadap gunung Gamalama,” ujar Taslim

    Darno Lamane, Kepala Pos Pemantauan Gunung Gamalama mengatakan, aktivitas Gamalama hingga sore masih terekam mengeluarkan abu vulkanik dengan ketinggian 200-800 meter dan mengarah ke Barat Laut Ternate. Alat sesmograf bahkan mencatat terjadi 15 gempa tremor dengan amplitudo 8 milimeter dan gempa tektonik dengan amplitudo 42 milimeter.

    “Statusnya pun masih pada waspada level dua. Kami juga sudah meningkatan aktivitas pengamatan,” kata Darno.

    BUDHY NURGIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.