Teknisi Hercules Itu Harusnya Dimakamkan di TMP  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan TNI AU membawa peti mati korban jatuhnya pesawat Hercules C-130B berisikan Letda PnB Dian Sukma yang akan dikembalikan ke keluarga di pangkalan militer, Medan, Sumatera Utara, 1 Juli 2015. Sebanyak 39 jenazah korban kecelakaan pesawat Hercules dikembalikan ke keluarga masing-masing. REUTERS/Beawiharta

    Pasukan TNI AU membawa peti mati korban jatuhnya pesawat Hercules C-130B berisikan Letda PnB Dian Sukma yang akan dikembalikan ke keluarga di pangkalan militer, Medan, Sumatera Utara, 1 Juli 2015. Sebanyak 39 jenazah korban kecelakaan pesawat Hercules dikembalikan ke keluarga masing-masing. REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.COMojokerto - Keluarga salah satu teknisi pesawat Hercules yang jatuh di Medan, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Ibnu Kohar, meminta almarhum dimakamkan di pemakaman umum di desa asal almarhum di Desa/Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

    Padahal Kepala Sub-Seksi Kelengkapan Perorangan Pelayanan Personel Pangkalan Udara (Lanud) Surabaya Kapten Mulyadi mengatakan almarhum sebenarnya berhak dimakamkan sebagai pahlawan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Mojokerto.

    “Karena almarhum gugur dalam misi operasi Penerbangan Angkutan Negara Militer (PAUM),” kata Mulyadi saat berada di rumah duka di Mojokerto, Rabu, 1 Juli 2015.

    Namun, menurut Mulyadi, pihak keluarga meminta almarhum dimakamkan di pemakaman umum desa setempat. “Padahal korban sebenarnya bisa dimakamkan di taman makam pahlawan,” ujarnya.

    Mulyadi mengatakan jenazah almarhum Kohar sudah teridentifikasi dan masih berada di Rumah Sakit Adam Malik, Medan. Rencananya, jenazah diterbangkan ke Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemudian ke Lanud Abdurahman Saleh, Malang, dan disemayamkan di sana. “Setelah dari Malang akan dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan,” tuturnya.

    ISHOMUDDIN 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.