Pembangunan Mako TNI Angkatan Udara III di Biak Rampung pada 2019

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Kamis, 13 Desember 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Kamis, 13 Desember 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna menuturkan, pihaknya saat ini sedang membangun sarana dan prasarana penunjang untuk satuan Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau) III di Biak, Papua.

    Baca juga: HUT ke-72, TNI AU Gelar Pesta Rakyat di Halim Dua Hari

    Rencananya, infrastruktur Koopsau III akan rampung pada 2019. "Ini yang didahulukan pembangunan markas komando atau mako, baru setelah itu infrastruktur lain seperti perumahannya," ucap Yuyu di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Kamis, 13 Desember 2018.

    Yuyu menuturkan, anggaran yang digelontorkan untuk fokus pembangunan mako menelan Rp 500 miliar. Pembangunan mako dan sejumlah sarana penunjang operasional Koopsau III, termasuk alat utama sistem senjata (alutsista) secara bertahap ini bertujuan untuk memperkuat armada tempur wilayah timur Indonesia.

    Selain Koopsau III, secara serentak telah dibentuk Komando Armada (Koarmada) III TNI AL, Pasmar 3 Korps Marinir, dan Divisi Infanteri 3/Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), pada Mei 2018. 

    Dengan adanya empat satuan TNI baru ini, secara dimensi ruang memenuhi unsur kematraan lengkap, dan seluruh satuan baru dibentuk mampu bekerja secara sinergis dan interoperable untuk menghadapi ancaman serta memitigasi persoalan.

    Selain itu, pembangunan juga dilakukan untuk menambah pertahanan wilayah Indonesia bagian timur yang memiliki ruang udara yang luas. "Apalagi, saat ini wilayah timur sangat rawan masuknya pesawat luar yang melanggar. Meski sejauh ini hal itu mampu diatasi," kata Yuyu.

    Simak juga: Penyerahan Pesawat F-16 Hibah Amerika ke TNI AU Tertunda

    Namun, kata Yuyu, selama pengawasan dilaksanakan terus-menerus dan melakukan pengintaian, pelanggaran udara bisa diminimalisir, sehingga pesawat manapun yang masuk di wilayah Indonesia tanpa izin akan disergap. Untuk memperkuat pertahanan juga ditingkatkan pengaktifan dan penambahan radar.

    Saat ini, Indonesia sudah memiliki lebih dari 20 buah radar. Yuyu menuturkan, TNI AU berencana menambah enam buah radar lagi di tahun ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.