Helikopter Malaysia Mendarat Ilegal di Pos Jaga TNI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Helikopter AS-565 MBE Panther, merupakan salah satu helikopter yang memiliki kemampuan ASW (Anti Submarine Warfare) atau anti kapal selam. Heli canggih ini telah dimiliki oleh TNI AL, kehadiran heli ini bertujuan menghidupkan kembali skadron Udara 100, satuan khusus pemburu kapal selam. airbushelicopters.com

    Helikopter AS-565 MBE Panther, merupakan salah satu helikopter yang memiliki kemampuan ASW (Anti Submarine Warfare) atau anti kapal selam. Heli canggih ini telah dimiliki oleh TNI AL, kehadiran heli ini bertujuan menghidupkan kembali skadron Udara 100, satuan khusus pemburu kapal selam. airbushelicopters.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah helikopter sipil milik Malaysia memasuki wilayah udara Indonesia tanpa izin, Ahad, 28 Juni 2015. Helikopter berkelir putih itu bahkan hingga mendarat di helipad pos penjagaan perbatasan Aji Kuning, Sebatik, Kalimantan Utara, pukul 08.45 Wita. Helikopter berlogo GRAND 9M-YMH itu pun mendarat tepat di depan pos jaga prajurit TNI AD. 

    "Mesin pesawat masih hidup, penumpangnya pun tak turun," kata Komandan Pangkalan Udara Tarakan Letnan Kolonel Tiopan Hutapea ketika dihubungi, Senin, 29 Juni 2015.

    Para prajurit TNI pun kaget ketika helikopter yang diduga berjenis Agustawestland itu menyentuh tanah Indonesia. Komandan Pos Aji Kuning Kapten Surisfiyanto langsung memerintahkan anak buahnya mendekati helikopter dan meminta penumpangnya turun. "Tujuannya agar diperiksa maksud dan tujuan mereka," kata Tiopan.

    Namun helikopter tersebut tak memberikan respons. Pilot enggan mematikan mesin baling-baling helikopter. Tak mau kalah, prajurit TNI memberikan peringatan kepada pilot untuk mematikan mesin. Sayangnya lima menit kemudian atau pukul 08.50 Wita, helikopter Malaysia itu kembali mengudara meninggalkan pos TNI.

    Menurut informasi yang diperoleh Tiopan, helikopter tersebut hendak meninjau Sebatik sebelum acara kunjungan Menteri Malaysia di perbatasan. Tiopan pun mengaku sudah menyampaikan peristiwa ini kepada petinggi TNI AU. 

    Sebelumnya Tiopan dan Komandan Satuan Radar TNI AU 225 Tarakan Mayor Suwarma Hasal mengatakan. selama 2015 telah terjadi sembilan kali pelanggaran wilayah udara di Ambalat oleh pesawat milik Malaysia. Kesembilan pesawat itu terdiri dari pesawat militer, pesawat sipil, hingga pesawat tanpa awak atau drone. Kesembilan pesawat itu berhasil terdeteksi oleh radar Plessy AR 325 Commander TNI AU yang terpasang di Tarakan dengan jangkauan 250 mil laut atau 400 kilometer.

    INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.