Demokrat Bantah Undang Mega Demi Lobi ke Pemerintah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ani Yudhoyono mengunggah foto 3 pimpinan Partai Demokrat, Syarief Hasan, Edhie Baskoro Yudhoyono dan Agus Hermanto saat bertemu dengan Megawati pada media sosial Instagram miliknya. instagram.com

    Ani Yudhoyono mengunggah foto 3 pimpinan Partai Demokrat, Syarief Hasan, Edhie Baskoro Yudhoyono dan Agus Hermanto saat bertemu dengan Megawati pada media sosial Instagram miliknya. instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPP Partai Demokrat Herman Khaeron membantah partainya sengaja mendekati Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri demi mendapat posisi di kabinet. Herman mengatakan Demokrat sengaja mengundang seluruh pimpinan partai koalisi dan nonkoalisi sebagai ajang silahturahmi.

    "Ini acara besar, lumrah saja kita undang semua. Jangan ditarik simpulan ada bargaining politik untuk masuk ke eksekutif," kata Herman, Senin, 11 Mei 2015.

    Pada 8 Mei lalu, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengirim utusannya untuk mengunjungi Megawati di Teuku Umar Jakarta. Sekretaris Jenderal Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, Ketua Harian Syarief Hasan, dan Dewan Pembina Agus Hermanto menemui Mega dan Olly Dondokambey.

    Ketua Harian Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan Megawati berusaha datang ke pembukaan Partai Demokrat pada Selasa, 12 Mei 2015 pukul 19.30 WIB. Namun, hingga kini tak ada konfirmasi dari Megawati. “Beliau mengatakan sejak jadi Ketum selalu sibuk,” ujar Syarief.

    Herman mengatakan meski Mega tak hadir, ia bisa mengutus kadernya untuk hadir di Kongres Demokrat. Kehadiran PDI Perjuangan, kata Herman, bisa menjadi bukti rekonsiliasi antara Megawati dan SBY.

    Herman mengatakan partainya tak menutup kesempatan untuk mendukung pemerintah dan masuk ke kabinet. "Kalau ke depannya ada niat bersama itu hal lain, ada mata rantainya," kata dia.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.