Tunda Budi, Jokowi Hindari 3 Masalah Besar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Olga Lydia (kedua kanan) dan relawan pendukung Joko Widodo mendatangi kantor KPK, Jakarta, 15 Januari 2015. Mereka juga menggelar aksi tutup mata di gedung KPK. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Artis Olga Lydia (kedua kanan) dan relawan pendukung Joko Widodo mendatangi kantor KPK, Jakarta, 15 Januari 2015. Mereka juga menggelar aksi tutup mata di gedung KPK. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Akhirnya Presiden Joko Widodo  menunda pelantikan  Komisaris Jenderal Budi Gunawan  sebagai  Kapolri kendati telah disetujui oleh DPR.  Presiden tetap memberhentikan  Jenderal Sutarman sebagai Kapolri dan menunjuk Wakil Kapolri  Komjen Pol. Badrodin Haiti sebagai Pelaksana Tugas Kapolri. (Baca: Jokowi Tunda Budi Gunawan Jadi Kapolri

    Keputusan Jokowi  setidaknya menghindari  tiga masalah serius yang muncul bila ia ngotot  melantik  Budi Gunawan sebagai Kapolri. Soalnya Budi  telah ditetapkan sebagai tersangka suap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi  pada 13 Januari 2015.

    1. Mengindari  Konflik KPK vs Polri

    Bahaya itu sempat  disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja. Ia khawatir bila Presiden Joko Widodo tetap melantik Budi Gunawan sebagai Kepala Polri  akan menyebabkan konflik di antara lembaga penegak hukum. "Bisa menimbulkan chaos," ujar Pandu di kantornya, Kamis, 15 Januari 2015.

    Pandu mengatakan, friksi mudah pecah ketika penyidik KPK menggeledah tempat yang terkait dengan Budi Gunawan, yang menjabat sebagai Kepala Polri. "Kalau kami menyita barang terkait dengan pribadi seorang Kapolri yang jadi tersangka, dikira kami melecehkan Polri," katanya. (Baca: Awas, KPK Polri Bisa Berkelahi )

    2. Tak Menghina Kepolisian

    Presiden Jokowi  terhindar dari pelanggaran etika  tata negara  dengan tidak melantik seorang tersangka korupsi sebagai  Kepala Polri.   Jokowi  juga tidak menghina  kepolisian  seperti yang diperingatkan oleh aktivis dari Indonesia Budget Center, Roy Salam.

    Roy Salam sebelumnya mengatakan Presiden Joko Widodo akan menghina lembaga kepolisian jika tetap melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kepala Polri. "Ini sebuah penghinaan terhadap lembaga kepolisian, yakni menyodorkan pemimpin yang bermasalah," kata Roy saat dihubungi Tempo, Kamis, 15 Januari 2015.

    Menurut dia,  tak semestinya Polri sebagai lembaga penegak hukum disodori calon pemimpin yang bermasalah secara hukum. "Bagaimana mau menegakkan hukum kalau dipimpin orang yang bermasalah?" ujar Roy.(Baca: Lantik Budi Gunawan, Jokowi Akan Menghina Polri)

    3. Tidak Mengecewakan Relawan

    Relawan Jokowi mungkin sedikit lega karena  Presiden menunda pelantikan Budi Gunawan sebagai Kapolri.  Sebelumnya puluhan relawan pendukung Jokowi pada Pemilihan Presiden 2014 mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi. (Baca: Abdee Slank Bicara Soal Keputusan Jokowi)

    Massa yang menamakan diri Relawan Salam Dua Jari itu mendukung KPK meminta Presiden Jokowi tak melantik Budi.  "Kami Relawan Salam Dua Jari meminta Pak Jokowi menarik pencalonan Budi Gunawan," ujar Fadjroel Rachman, salah seorang relawan, di gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Kamis, 15 Januari 2015.

    Menurut Fadjroel, para relawan  sangat kecewa atas pilihan Jokowi menunjuk Budi Gunawan sebagai calon Kapolri. Padahal, Budi merupakan jenderal yang mempunyai rekening gendut. (Baca: Tolak Budi Gunawan Relawan Jokowi Datangi KPK)

    TIM TEMPO

    Berita Lain:

    Tunda Budi Jokowi Atasi Desakan Kubu Megawati

    Budi Gunawan Tinggalkan Istana Tanpa Senyum

    PDIP Ngotot Budi Gunawan Dilantik, Jokowi Repot

     

     

     

     

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.