Jumat, 16 November 2018

Terdakwa Korupsi Al-Quran Dituntut 12 Tahun Penjara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Perkasa Jaya Abadi, Dendy Prasetya (duduk di kursi roda), bersama ayahnya  anggota DPR RI dari Partai Golkar, Zulkarnain Djabar saat menuju ruang sidang untuk menjalani sidang perdana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Dasril Roszandi

    Direktur Utama PT Perkasa Jaya Abadi, Dendy Prasetya (duduk di kursi roda), bersama ayahnya anggota DPR RI dari Partai Golkar, Zulkarnain Djabar saat menuju ruang sidang untuk menjalani sidang perdana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (28/1). TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kasus korupsi pengadaan Al-Quran dan alat laboratorium komputer, Zulkarnaen Djabar, dituntut 12 tahun dan denda Rp 500 juta subsider 5 bulan kurungan dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, 6 Mei 2013.

    Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Kemas Abdul Roni, mengatakan tuntutan tersebut didasari  beberapa pertimbangan, di antaranya dilakukan saat negara dengan giat memberantas korupsi dan terbukti sejak awal terdakwa berniat mencari keuntungan dari proyek pengadaan Al-Quran. "Serta bersikap tidak kooperatif dengan memberikan jawaban yang berbelit-belit selama persidangan berlangsung," kata jaksa Roni.

    Adapun terdakwa Dendy Prasetya, putra Zulkarnaen Djabar, juga dituntut dengan hukuman pidana kurungan 9 tahun dan denda senilai Rp 300 juta. Jika Dendy tak membayar denda, akan diganti dengan hukuman 4 bulan penjara.

    Dendy dan Zulkarnaen juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 14,39 miliar, dikurangi jumlah uang yang telah disita oleh penyidik KPK sebesar Rp 210,8 juta.

    Uang pengganti itu harus dibayarkan dalam waktu satu bulan setelah putusan tersebut berkekuatan hukum tetap. "Jika harta bendanya tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti tersebut, kedua terdakwa akan dipidana penjara masing-masing selama 3 tahun," kata Jaksa Roni.

    Jaksa menyatakan, keduanya terbukti bersalah karena Zulkarnaen dan Dendy didakwa menerima uang sebesar Rp 14,39 miliar dari pengusaha Abdul Kadir Alaydrus. Uang itu sebagai balas jasa karena Zulkarnaen, anggota Badan Anggaran DPR, telah menyetujui anggaran di Kementerian Agama. Terdakwa telah mengintervensi tugas Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama dalam proyek pengadaan Al-Quran.

    Zulkarnaen bersama anaknya, Dendy, dikatakan mengupayakan PT Batu Karya Mas menjadi pemenang proyek pengadaan alat laboratorium komputer untuk madrasah tsanawiyah tahun anggaran 2011. Adapun PT Adhi Aksara Abadi Indonesia, pemenang tender pengadaan Al-Quran tahun anggaran 2012, salah satu anggota direksinya adalah Dendy.

    LINDA HAIRANI

    Topik hangat:

    Perbudakan Buruh
    | Harga BBM | Susno Duadji | Ustad Jefry

    Berita Lainnya:
    Akun Vitalia Sesha Pamer Foto di Twitter
    Siapa Vitalia Shesya, Teman Dekat Ahmad Fathanah?
    Buruh Pabrik Panci yang Disekap Layak Dapat Rp 1 M
    Yuki, Bos Perbudakan Buruh, Masih `Dilindungi`
    Begini Penyekapan Buruh Pabrik Panci Terbongkar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.