Mengenal Ngayau, Tradisi Berburu Kepala Manusia di Suku Dayak

Reporter:
Editor:

Nurhadi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Perwakilan suku dayak ikut dalam pawai peringatan Sejit (ulang tahun) Yang Mulia Kong Co

    Perwakilan suku dayak ikut dalam pawai peringatan Sejit (ulang tahun) Yang Mulia Kong Co "Fat Cu Kung" di kawasan Glodok, Jakarta Barat, Minggu, (21/10). TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ngayau merupakan satu istilah yang digunakan untuk merujuk kepada suatu tradisi memburu kepala manusia di kalangan kebanyakan masyarakat Dayak Sarawak, seperti Iban dan Kayan. 

    Melansir dari sebuah buku berjudul Ngayau sebagai Sebuah Novel Berwarna Tempatan: Satu Kajian Sosiologi Sastera yang ditulis oleh Asmiaty Amat, mulanya Ngayau merujuk kepada amalan yang berkaitan dengan upacara perkawinan, keagamaan, dan nilai kewiraan. Amalan ini menjadi syarat bagi lelaki Iban sebagai bukti keberanian kepada keluarga calon mempelai istri.

    Menurut Noria Tugang dalam bukunya berjudul Pua Identiti dan Budaya Masyarakat Iban (2014), tradisi Ngayau dilakukan oleh orang Iban pada zaman silam semata-mata untuk tujuan mempertahankan kaumnya dari musuh. Tidak Sembarang musuh akan dibunuh, mereka hanya memilih musuh lelaki dewasa untuk dibunuh dan bawa balik ke rumah. 

    Rambut dari kepala yang didapat saat Ngayau akan menjadi hiasan pada perisai dan pedang. Sementara itu, kepala-kepala musuh akan dikeringkan dan digantung di rumah mereka. Di beberapa rumah hingga kini ada yang menyimpan tengkorak kepala musuh yang diturunkan sejak zaman nenek moyangnya.

    Membawa balik kepala musuh semasa Ngayau ini dianggap sebagai suatu anugerah berharga. Selain itu, sebagai simbol kehormatan, keberanian, dan juga penolak bala. Setelah tradisi itu berlangsung, biasanya seorang lelaki akan disematkan gelar ‘Bujang Berani’ yang berarti raja berani atau pahlawan ulung. 

    Fenomena tradisi Ngayau juga dianggap sebagai satu peningkatan status sosial tertinggi pada masyarakat suku Dayak Iban. Dengan begitu, saat ritual adat Gawai atau perayaan lainnya, mereka berhak menerima penghormatan tertinggi. 

    Meski tradisi Ngayau telah dianggap identik dengan suku Dayak, tetapi tradisi ini sudah tidak dilakukan kembali. Dapat dikatakan bahwa kini tradisi Ngayau merupakan salah satu tradisi suku Dayak yang sudah punah. Diberhentikannya tradisi ini tercatat dalam kesepakatan bersama seluruh etnis Dayak Borneo Raya pada 22 Mei-24 Juli 1894. 

    HARIS SETYAWAN

    Baca juga: Sumpit, Tradisi Dayak Jadi Olahraga


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Pemerintah Longgarkan Aturan Memakai Masker

    Jokowi mengizinkan masyarakat lepas masker di ruang terbuka setelah melihat kondisi pandemi Covid-19 yang memenuhi nilai-nilai tertentu.