Komponen yang Dinilai dalam Asesmen Nasional September 2021

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa SDN 04 Timpeh mengikuti kegiatan belajar mengajar di bangunan darurat, Kampung Jao, Panyubarangan, Dharmasraya, Sumatera Barat, Selasa, 9 Maret 2021. Bangunan sekolah darurat itu menampung 17 pelajar di kelas jauh yang hanya terdiri dari kelas 1-3 dengan seorang guru kelas dan seorang guru agama. ANTARA/Wahdi Septiawan

    Siswa SDN 04 Timpeh mengikuti kegiatan belajar mengajar di bangunan darurat, Kampung Jao, Panyubarangan, Dharmasraya, Sumatera Barat, Selasa, 9 Maret 2021. Bangunan sekolah darurat itu menampung 17 pelajar di kelas jauh yang hanya terdiri dari kelas 1-3 dengan seorang guru kelas dan seorang guru agama. ANTARA/Wahdi Septiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam menilai efektivitas pembelajaran dan ketercapaian kurikulum, Kemendikbud Ristek melakukan salah satu proses penting yaitu asesmen nasional. Proses asesmen dilakukan untuk mengevaluasi dan melakukan perbaikan proses pembelajaran.

    Berdasarkan Direktorat Sekolah Menengah Pertama atau DITSMP dalam kanal resminya, ditsmp.kemendikbud.go.id, Kemendikbud sudah mengeluarkan kebijakan ini sejak 2020 lalu. AN atau Asesmen Nasional dirancang untuk pengganti Ujian Nasional UN dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional atau USBN sekaligus penanda perubahan paradigma evaluasi pendidikan nasional.

    AN juga bertujuan untuk memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil melalui serangkaian tahapan. Selanjutnya, hasil dari AN tidak digunakan untuk merangking akreditasi sekolah, melainkan untuk perbaikan kualitas belajar di sekolah-sekolah yang pada akhirnya diharapkan meningkatkan hasil belajar murid.

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan, Asesmen terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

    Masih dari ditsmp.kemdikbud.go.id, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kompetensi mendasar terkait kecakapan berpikir logis-sistematis, kemampuan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah dan mengolah informasi. Selain itu, terdapat dua keompetensi yang akan dimasukkan kedalam AKM, kompetensi literasi dan kompetensi numerasi.

    kompetensi terkait literasi dan numerasi akan dapat ditinjau dari 3 aspek, seperti konten, proses kognitif, dan konteks. Untuk bentuk soal AKM sendiri terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan uraian.

    Nadiem mengatakan, fokus pada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran. "Karena justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lain terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bentuk angka atau secara kuantitatif," katanya memaparkan.

    Bagian kedua dari asesmen nasional adalah survei karakter. Bagian ini dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. "Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif."

    Lebih lanjut, bagian ketiga dari asesmen nasional adalah survei lingkungan belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Menteri Nadiem Makarim memastikan seluruh Asesmen 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar (baseline) dari kualitas pendidikan yang nyata di lapangan, sehingga tidak ada konsekuensi bagi sekolah dan murid.

    GERIN RIO PRANATA

    Baca juga: Memahami Asesmen Nasional yang Dilaksanakan September 2021


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.