Hari Pramuka: Mengenal Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Drum band Hizbul Wathan mengikuti gladi bersih pembukaan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah yang bertempat di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Kamis (1/7). Tempo/Arif Wibowo

    Drum band Hizbul Wathan mengikuti gladi bersih pembukaan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah yang bertempat di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Kamis (1/7). Tempo/Arif Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari ini, 14 Agustus merupakan Hari Pramuka. Salah satu gerakan kepanduan yang ada di Indonesia adalah Hizbul Wathan atau yang lebih dikenal dengan HW. HW merupakan salah satu organisasi otonom di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.

    Dibentuknya HW berawal dari perjalanan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan yang sedang mengikuti pengajian SAFT (Sidiq, Amananah, Fathonah, Tabligh) di Surakarta pada 1916. Pengajian tersebut diadakan secara rutin di rumah Kyai Haji Imam Mukhtar Bukhari.

    Berdasarkan hizbulwathan.or.id, Di kota tersebut, Kyai Haji Ahmad Dahlan melihat anak-anak JPO (Javansche Padvinders Organisatie), dengan pakaian seragam, latihan baris berbaris di halaman Mangkunegaran. Sesampainya di Jogja, Kyai Haji Ahmad Dahlan segera menceritakan apa yang telah ia lihat ketika perjalanan dakwah tersebut.

    “Alangkah baiknya kalau Muhammadiyah memiliki padvinder untuk mendidik anak-anak mudanya agar memiliki badan sehat serta jiwa yang luhur untuk mengabdi kepada Allah,” begitulah gagasan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang juga disepakati oleh para pemimpin Muhammadiyah, seperti KH Muchtar, KH Hisyam, hingga KRH Hadjid.

    Hal ini ia bicarakan juga kepada kedua muridnya, Sumodirjo dan Sarbini. Ia berharap para pemuda Muhammadiyah, dapat latihan kepanduan utnuk berbakti kepada Allah subahanahu wa ta’ala. Ketika itu pula Sumodirjo dan Sarbini segera merintis berdirinya kepanduan di Muhammadiyah dengan latihan pertama kali baris berbaris, olah raga, dan pertolongan pertama pada kecelakaan.

    Latihan berbaris dan berolahraga setiap hari Ahad sore di halaman Sekolah Muhammadiyah Suronatan. Seiring berjalannya waktu, pengikut HW semakin bertambah dan tidak lagi terbatas pada guru saja, juga banyak para pemuda Kauman yang ikut berlatih. Yang cukup menarik perhatian masyarakat yaitu barisan Padvinder Muhammadiyah yang tegap, disiplin, dan rapi, yang merupakan hal yang sangat menarik bagi masyarakat saat itu.

    Menukil dari arsip.muhammadiyah.or.id, semboyan Hizbul Wathan pada waktu itu ialah setia kepada util amri; sungguh berhajat akan menjadi orang utama; tahu akan sopan santun dan tidak akan membesarkan diri; boleh dipercaya; bermuka manis; hemat dan cermat; penyayang; suka pada sekalian kerukunan; tangkas, pemberani, tahan, serta terpercaya; kuat pikiran menerjang segata kebenaran; ringan menolong dan rajin akan kewajiban; menetapi akan undang-undang Hizbul Wathan (Almanak Muhammadiyah, 1924: 50). 

    GERIN RIO PRANATA

    Baca: Sejarah Hari Pramuka yang Diperingati Setiap 14 Agustus

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.