Kisah Sholihah Munawwaroh, Ibunda Gus Dur yang Jadi Single Parent di Usia Muda

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibu dari Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Foto: Tebuireng Online

    Ibu dari Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Foto: Tebuireng Online

    TEMPO.CO, Jakarta - Nama Sholihah Munawwaroh mungkin tidak asing bagi banyak orang. Ia adalah ibu dari presiden ke-4 Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kisahnya sebagai single parent di usia muda sangat menarik untuk dibahas dan dijadikan inspirasi.

    Menurut keterangan Lily Chadijah Wahid, anak kelima Sholihah, ibunya merupakan inspirator dan motivator bagi dirinya dan saudara-saudaranya. Pasalnya di usia muda, antara 27 atau 28 tahun, Sholihah harus menjadi orang tua tunggal untuk enam anak.

    "Dan, sampai usia 74 beliau memilih hidup sebagai single parent untuk kami berenam," ucap Lily dalam acara Tahlil dan Doa Memperingati Haul ke-1 Hasyim Wahid (Gus Im) seperti dikutip dari laman NU Online, Senin, 2 Agustus 2021.

    Suami Sholihah adalah Abdul Wahid Hasyim, pahlawan nasional sekaligus menteri dalam kabinet pertama Indonesia. Ketika wafat, Wahid Hasyim meninggalkan Sholihah dengan enam anak, yakni Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Aisyah Baidlowi, Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Umar Wahid, Lily Chadijah Wahid, dan Hasyim Wahid (Gus Im) yang masih tiga bulan dalam kandungan.

    Meski harus menghidupi enam anak seorang diri, Lily mengatakan bahwa ibunya memiliki semangat yang tinggi. Hal tersebut turut menginspirasi keenam anaknya dalam menjalani kehidupan. Bahkan, anak-anak Lily menyebut bahwa Sholihah adalah sosok nenek yang terlalu semangat dalam menjalani hidup.

    "Soalnya kadang-kadang nggak ngerti ada capek. Ada acara apa aja diundang, yowis teko (datang saja). Ini, salah satunya, adalah yang diwariskan Ibu kepada kita-kita semua," kata Lily.

    Kesaksian lain datang dari Umar Wahid yang mengisahkan bahwa ibunya mempunyai tiga hal yang sangat menonjol. Pertama, Sholihah amat mencintai agama, negara dan bangsanya. Hal tersebut tidak semata diucapkan dalam kata-kata saja melainkan juga diwujudkan dalam perbuatan.

    Kedua, Umar menyebut bahwa Sholihah sangat mencintai keluarganya. Perempuan tersebut menaruh perhatian yang besar pada keponakan dan cucunya.

    “Kami bisa belajar dari situ, Bagaimana di tengah-tengah kesibukan tetap memberikan perhatian yang cukup, bahkan berlebihan, kepada keluarga. Itulah sosok Bu Wahid," ujar Umar.

    Ketiga, Sholihah Munawwaroh juga punya cinta yang besar bagi Nahdlatul Ulama (NU). Dirinya merupakan sosok penting yang mengelola segala kebutuhan kegiatan PBNU saat G30S/PKI terjadi dan menyelesaikan konflik dua kubu NU pada tahun 1983-1984.

    SITI NUR RAHMAWATI

    Baca juga:

    Dampak Corona, Ziarah Makam Presiden Sukarno dan Gus Dur Ditutup


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.