Ini Alasan DPR Mau Patungan Untuk Penelitian Vaksin Nusantara

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tangkapan layar saat mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memperagakan pembuatan Vaksin Nusantara, vaksin berbasis sel dendritik untuk melawan Covid-19, di hadapan pimpinan dan anggota Komisi VII DPR RI, Rabu 16 Juni 2021. (ANTARA/ Zubi Mahrofi)

    Tangkapan layar saat mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto memperagakan pembuatan Vaksin Nusantara, vaksin berbasis sel dendritik untuk melawan Covid-19, di hadapan pimpinan dan anggota Komisi VII DPR RI, Rabu 16 Juni 2021. (ANTARA/ Zubi Mahrofi)

    TEMPO.CO, Jakarta – Anggota Komisi Riset dan Teknologi DPR Ridwan Hisjam, menjelaskan alasan keinginannya menggulirkan wacana patungan dana dana penelitian vaksin Covid-19, khususnya untuk vaksin Nusantara buatan bekas Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. “Anggarannya kecil banget. Bagaimana riset kita bisa maju,” ujarnya ketika dihubungi, Jumat, 18 Juni 2021.

    Anggaran yang dimaksud oleh Politikus Golkar ini adalah dana pengembangan Vaksin Merah Putih di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang mencapai Rp 11 miliar. Dalam rapat dengar pendapat umum di Komisi Riset dan Teknologi pada Rabu, 16 Juni lalu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Subandrio, menuturkan dana pengembangan vaksin Merah Putih adalah Rp 11 miliar.

    Duit itu, diberikan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional. “Tahun ini sudah kami usulkan tambahan Rp 7 miliar, tapi belum cari sampai saat ini,” ujar Amin. Amin menyebut anggaran ideal untuk riset vaksin Covid-19 adalah Rp 500 miliar. Angka itu akan digunakan dari tahap pra klinis, pengembangan vaksin, uji klinis dari tahap 1 sampai tahap ketiga.

    Karena itu, menurut Ridwan, ia menggulirkan usulan untuk patungan dana riset vaksin, termasuk untuk Nusantara, sebesar Rp 10 juta per orang di Komisinya. Di Komisi Riset dan Teknologi sendiri ada 50 anggota Dewan. “Ini untuk kemanusiaan, maka saya mengusulkan urunan,” ujarnya. Ridwan yakin, apa yang diteliti oleh Terawan itu bisa ikut memberikan sumbangsih dalam penanganan Covid-19.

    Apalagi, lanjut Ridwan, ia merupakan salah satu pasien Terawan dalam terapi Digital Substraction Angiography (DSA) atau yang dikenal sebagai ‘Cuci Otak’. Ridwan pun sempat memberikan semangat kepada Terawan untuk melanjutkan vaksin Nusantara melalui pesan WhatsApp. “Beliau menjawab, terima kasih atas dukungannya,” ujarnya.

    HUSSEIN

    Baca: 5 Organisasi Dokter Nilai Kebijakan PPKM Mikro Kurang Tepat, Harusnya PSBB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.