Ketimbang New Normal, Kenapa Bamsoet Lebih Pilih Gaya Hidup Baru?

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua MPR RI Bambang Soesatyo secara simbolis memberi bantuan pada karyawan Bandung Zoological Garden di Bandung, Jawa Barat, Jumat 15 Mei 2020. Bambang Soesatyo memberikan donasi paket sembako untuk semua karyawan dan pemelihara satwa di Bandung Zoo serta 1.000 ekor ayam untuk satwa karnivora setelah mendengar beberapa kebun binatang terancam bangkrut selama pandemi Covid-19. TEMPO/Prima Mulia

    Ketua MPR RI Bambang Soesatyo secara simbolis memberi bantuan pada karyawan Bandung Zoological Garden di Bandung, Jawa Barat, Jumat 15 Mei 2020. Bambang Soesatyo memberikan donasi paket sembako untuk semua karyawan dan pemelihara satwa di Bandung Zoo serta 1.000 ekor ayam untuk satwa karnivora setelah mendengar beberapa kebun binatang terancam bangkrut selama pandemi Covid-19. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua MPR, Bambang Soesatyo, menyatakan bahwa dia lebih suka menggunakan istilah gaya hidup baru ketimbang normal batu alias new normal menjelang pasca pandemi Corona alias Covid-19.

    "Dan Indonesia, harus segara menyesuaikan diri akan terjadinya tren atau gaya hidup baru melalui perubahan pola sosial masyarakat dan geopolitik yang mengarah pada kecenderungan individulistik, menghindari keramaian, lebih peduli pada kesehatan, robotik dan digitalisasi," kata politikus yang akrab disapa Bamsoet itu, di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2020.

    Menurut mantan ketua DPR ini, pemerintah pusat maupun daerah di semua tingkatan, mulai dari provinsi hingga ketua RT/RW, harus satu suara dalam sikap dan tindakan terkait new normal tersebut. 

    “Karena, bicara tentang wabah atau pandemi, bukan hanya soal perkara angka. Tapi soal bertindak bersama,” kata dia.

    Indonesia, kata Bamsoet, harus segera menetapkan arah secara jelas dan terukur mana yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan masyarakat dalam menghadapi terjadinya perubahan pola sosial masyarakat dan geopolitik tersebut.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.