Epidemiolog UI: Herd Immunity Bahaya, Bisa Menghabisi Populasi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 bukan saja pada manusia tetapi juga kehidupan satwa, khususnya satwa di lembaga konservasi (LK) umum.

    Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 bukan saja pada manusia tetapi juga kehidupan satwa, khususnya satwa di lembaga konservasi (LK) umum.

    TEMPO.CO, JakartaPakar epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, mengatakan bahwa herd immunity atau kekebalan gembala tidak relevan dihubungkan dengan Covid-19. “Karena belum ada vaksin yang dapat diberikan pada 80 persen penduduk dunia,” kata Syahrizal dalam keterangan tertulisnya, Ahad, 17 Mei 2020.

    Syahrizal mengatakan, Covid-19 bukan seperti virus measles atau campak, yang memberikan kekebalan alamiah setelah terinfeksi. Membiarkan populasi terinfeksi tanpa ada upaya pencegahan dan penanggulangan, kata dia, hanya akan menghabiskan umat manusia, dengan beberapa kali gelombang wabah sampai vaksin tersedia.

    Kekebalan gembala adalah istilah untuk suatu keadaan dimana 80 persen populasi yang mempunyai kekebalan terhadap suatu penyakit dapat melindungi sub-populasi yang rentan dari kelompok sub-populasi yang sakit.

    Menurut Syahrizal, herd immunity bisa dicapai dengan program vaksinasi Covid-19 terhadap 80 persen populasi, sehingga mempunyai kekebalan yang didapat atau memang penyakitnya sendiri memberi kekebalan alamiah setelah menginfeksi mayoritas populasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.