Bantah Terlibat Serang Orang Rimba Jambi, Kronologi versi PT SAL

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok Orang Rimba berada di tempat hunian sementara mereka di lahan perkebunan kelapa sawit warga, Pamenang, Merangin, Jambi, Selasa, 20 Novmber 2018. Kelompok adat ini mau tak mau mulai mengubah cara hidupnya dari bercocok tanam di hutan secara berpindah-pindah menjadi menetap. ANTARA/Wahdi Septiawan

    Kelompok Orang Rimba berada di tempat hunian sementara mereka di lahan perkebunan kelapa sawit warga, Pamenang, Merangin, Jambi, Selasa, 20 Novmber 2018. Kelompok adat ini mau tak mau mulai mengubah cara hidupnya dari bercocok tanam di hutan secara berpindah-pindah menjadi menetap. ANTARA/Wahdi Septiawan

    TEMPO.CO, Jakarta- Manajer Hubungan Masyarakat PT Sari Aditya Loka (SAL) Mochamad Husni membantah ada penyerangan terhadap Orang Rimba kelompok Sikar di Kabupaten Merangin, Jambi, oleh petugas keamanan perusahaan.

    Pernyataan Husni menanggapi berita sebelumnya di tempo.co berjudul Kesulitan Cari Makan, Orang Rima Jambi Jadi Korban Penyerangan. “Pada peristiwa itu tidak terjadi penyerangan terhadap Orang Rimba,” kata Husni dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 15 Mei 2020.

    Husni menceritakan, pada 12 Mei lalu atau saat kejadian, dua petugas keamanan PT SAL sedang melakukan patroli di perbatasan kebun inti perusahaan dengan kebun plasma Kredit Koperasi Primer Anggota. Saat patroli, petugas keamanan bertemu dengan lima warga Orang Rimba kelompok Sikar yang membawa 5 unit motor berkeranjang.

    Petugas keamanan, menurut Husni, mencoba berdialog dan menyampaikan bahwa selain karyawan tidak diperbolehkan memasuki perkebunan perusahaan. Sebab, PT SAL menerapkan protokol operasional pencegahan Covid-19 demi mencegah setiap orang, termasuk Orang Rimba, dari kemungkinan terinfeksi virus atau menginfeksi orang lainnya.

    Namun, kata Husni, yang terjadi justru di luar dugaan karena petugas keamanan dilempari batu oleh Orang Rimba tersebut. “Saat itu pertengkaran dapat dihindari. Orang Rimba mau mengikuti arahan dua petugas security,” katanya.

    Malam harinya, jadwal petugas keamanan ditambah tiga orang, sehingga menjadi lima petugas yang berjaga. Ketika mereka melanjutkan patroli, di tengah jalan dihadang oleh delapan Orang Rimba dan terjadi pengeroyokan terhadap petugas keamanan perusahaan. “Mereka dipukul hingga babak belur dan basah kuyup karena diceburkan ke parit,” ujar Husni.

    Untuk menghindari perkelahian lebih lanjut, Husni mengatakan petugas keamanan memilih mundur ke pos terdekat. Saat di pos itulah, petugas bertemu dengan masyarakat yang kebetulan melintas. Masyarakat, kata dia, emosi karena petugas keamanan, yang merupakan warga desa mereka, menjadi korban.

    Menurut Husni kemarahan masyarakat itu mendorong warga mengajak tetangganya hingga terkumpul 100 orang untuk mencari dan mengejar Orang Rimba yang mengeroyok petugas keamanan tersebut.  Pihak perusahaan selanjutnya menghubungi polsek setempat. “Musyawarah dan langkah-langkah mediasi terus diupayakan agar permasalahan ini selesai dengan damai,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.