Harapan WNI Eks ISIS: Semoga Pemerintah Berubah Pikiran

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta aksi yang tergabung dalam Barisan Relawan Bhinneka Jaya (Barabaja) berunjuk rasa dengan membawa poster di depan Istana Merdeka Jakarta, Senin, 10 Februari 2020. Mereka menolak rencana pemulangan sekitar 600 warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS kembali ke Indonesia. ANTARA/Wahyu Putro A

    Peserta aksi yang tergabung dalam Barisan Relawan Bhinneka Jaya (Barabaja) berunjuk rasa dengan membawa poster di depan Istana Merdeka Jakarta, Senin, 10 Februari 2020. Mereka menolak rencana pemulangan sekitar 600 warga negara Indonesia (WNI) eks ISIS kembali ke Indonesia. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan pendukung ISIS asal Indonesia, Aleeyah Mujahid, bukan nama sebenarnya, berharap pemerintah akan berubah pikiran terkait rencana pemulangan para WNI Eks ISIS.

    Aleeyah yang meninggalkan Indonesia pada Desember 2015 ini mengaku pasrah dengan keputusan pemerintah. Namun, ia berharap pemerintah berubah pikiran.

    “Hari ini mereka bilang enggak, siapa tahu besok-besok ada sesuatu yang menggerakkan hatinya untuk berubah pikiran. Aku enggak tahu harus berucap apa, mungkin Allah punya rencana yang lebih baik,” kata Aleeyah lewat pesan percakapan di media sosial pada Rabu, 12 Februari 2020.

    Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengatakan bahwa keputusan tak memulangkan WNI eks ISIS diambil setelah pemerintah mengadakan rapat. Alasan tak memulangkan WNI eks ISIS karena pemerintah harus memberikan rasa aman dari ancaman teroris dan virus-virus baru terhadap 267 juta rakyat Indonesia.

    Menurut Mahfud, pemerintah akan mendata jumlah valid WNI eks ISIS berikut identitas mereka secara lengkap. Pemulangan anak-anak di bawah usia 10 tahun juga akan dipertimbangkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.