10 Bulan di Syam, Ini Kata WNI Eks ISIS

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta aksi yang tergabung dalam Barisan Relawan Bhinneka Jaya (Barabaja) berunjuk rasa dengan membawa poster di depan Istana Merdeka Jakarta, Senin, 10 Februari 2020. Para peserta membawa berbagai poster dengan tulisan bernada penolakan. ANTARA/Wahyu Putro A

    Peserta aksi yang tergabung dalam Barisan Relawan Bhinneka Jaya (Barabaja) berunjuk rasa dengan membawa poster di depan Istana Merdeka Jakarta, Senin, 10 Februari 2020. Para peserta membawa berbagai poster dengan tulisan bernada penolakan. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - WNI eks ISIS Febri Ramdani berharap pemerintah bisa memberikan solusi terbaik bagi sekitar 600 WNI bekas pengikut ISIS yang masih berada di Timur Tengah.

    Febri adalah WNI eks ISIS yang telah kembali ke tanah air pada 2017.

    "Saya kembalikan lagi ke pemerintah, memberikan solusi terbaik ke mereka, menjadi pelajaran juga. Harus diberikan solusi terbaik sehingga masyarakat dapat hal positif dari kebijakan itu," kata Febri dalam peluncuran bukunya hari ini, Selasa, 11 Februari 2020.

    Buku itu berjudul "300 Hari Di Bumi Syam: Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS" yang diluncurkan di Kampus Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. 

    Febri Ramdani berada di Suriah selama 10 bulan bersama 26 keluarganya yang lebih dulu berangkat ke Suriah pada 2015. Saat ini, dia dan sejumlah keluarganya sudah pulang ke Indonesia.

    Dia berharap pemerintah bisa melihat dan menimbang kembali penilaian terhadap WNI eks ISIS perempuan dan anak-anak. 

    Iika pemerintah hendak memulangkan mereka, Febri berpendapat, program deradikalisasi harus maksimal. "Sehingga orang-orang ini bisa dibenahi lah."

    Febri Ramdani tak menjelaskan lebih detil apa yang dimaksudnya dengan deradikalisasi maksimal berikut tingkat radikalisme sekitar 600 WNI eks ISIS.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.