Cuaca Buruk, Semua Pelayaran Antar-pulau di Sumenep Ditangguhkan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi cuaca ekstrem. ANTARA/Saiful Bahri

    Ilustrasi cuaca ekstrem. ANTARA/Saiful Bahri

    TEMPO.CO, Sumenep-Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas VI Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menutup sementara waktu seluruh aktivitas pelayaran antar-pulau dari dan ke Pelabuhan Kalianget.

    Keputusan ini demi keselamatan penumpang, menyusul  cuaca buruk yang melanda perairan Selat Madura. "Penangguhan sudah kami lakukan sejak tanggal 5 sampai 9 Januari 2020," Kata Kepala KSOP Kelas IV Kalianget Supriyanto, Senin, 6 Januari 2020.

    Cuaca buruk yang menerjang Selat Madura telah diprediksi dengan akurat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, yakni tinggi gelombang di perairan Kabupaten Sumenep  bisa mencapai antara 2,5 sampai 3 meter.

    Menurut Supriyanto prediksi ini akurat sehingga tak ada yang dapat dilakukan selain menangguhkan seluruh jadwal pelayaran. Jika sampai batas akhir penangguhan cuaca tak kunjung membaik, kesyahbandaran akan memperpanjang masa penangguhan sampai cuaca kembali normal. "Sudah kami kirim surat edaran kepada operator kapal dan pihak terkait. Kalau cuaca buruk, izin berlayar tak kami keluarkan," ujar dia.

    Pada Jumat, 3 Januari lalu, Kapal Dharma Bahari Sumekar (DBS) I yang dikelola PT Sumekar, badan usaha milik Pemerintah Kabupaten Sumenep, gagal berlayar karena diadang cuaca buruk disertai angin kencang.

    Juru bicara PT Sumekar Eko Wahyudi mengatakan Jumat itu mestinya kapal berlayar ke Pulau Kangean. Namun karena tinggi gelombamg di perairan yang akan dillewati mencapai 3 meter, diputuskan untuk menunda pelayaran. "Jika memaksakan berangkat, dikhawatirkan bisa berbahaya terhadap keselamatan penumpang," kata dia.

    MUSTHOFA BISRI

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?