Direktur Pendidikan KPK: Ada Akun Bot Giring Opini Sudutkan KPK

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjuk rasa (kanan) melepas paksa kain selubung hitam yang menutupi tulisan dan logo KPK yang dipasang Wadah Pegawai (WP) KPK, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat, 13 September 2019. Pria tersebut tergabung dalam massa Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Relawan Cinta NKRI yang menggelar aksi di depan gedung KPK.  TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang pengunjuk rasa (kanan) melepas paksa kain selubung hitam yang menutupi tulisan dan logo KPK yang dipasang Wadah Pegawai (WP) KPK, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat, 13 September 2019. Pria tersebut tergabung dalam massa Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Relawan Cinta NKRI yang menggelar aksi di depan gedung KPK. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Suprapdiono melihat fenomena di mana opini masyarakat disetir oleh robot-robot (bot) di media sosial.

    "Jadi, sekarang perang media sosial itu pakai metodologi. Perang bertujuan membuat bimbang sikap publik pada pemberantasan korupsi. Dalam rangka menggiring opini pembenaran atau justifikasi digunakan bot-bot. Seperti yang diulas para pakar media sosial," kata Giri saat dihubungi Antara pada Jumat, 13 Desember 2019.

    Giri mengatakan pemberitaan soal pemberantasan korupsi misalnya. Ia mengamati dalam kolom komentar berita sering kali akun bot mendominasi percakapan.

    "Kalau dibaca sekarang media arus utama pada komentarnya, misalnya ada 500 komentar yang berbicara jelek soal KPK, ada satu saja yang dukung KPK. Seakan-akan yang benar yang banyak tadi," kata Giri. "Padahal yang mayoritas adalah akun-akun bot."

    Dalam perang digital ini, kata Giri, masyarakat harus lebih cerdas dari bot tersebut. "Jadi, masyarakat harus lebih cerdas. Kalau namanya @Rieni7646 belum tentu @Rieni7646 itu manusia. Jangan-jangan bot itu," ujar Giri.

    Ia mengatakan bahkan beberapa pendengung (buzzer) di media sosial menggunakan bot untuk menggiring opini. Misalnya, dalam konteks revisi UU KPK. Giri menuturkan beberapa akun bot menyerang lembaga antikorupsi ini dengan isu taliban dan radikalisme agar dukungan masyarakat berkurang.

    "Misalnya, jenggotan dibilang taliban, padahal bisa saja dia anggota klub motor. Atau, orang abis salat Zuhur, tiba-tiba disuruh menjemput Novel Baswedan di depan kantor, lalu dijepret, masih memakai kopiah. Nah, itu dikira taliban," ujar Giri.

    Bahkan, Giri menuturkan ada akun-akun bot yang membingkai seolah-olah KPK memusuhi Nahdlatul Ulama. Sebab, KPK menyelidiki kasus yang menyeret Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Keduanya dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU). 

    "Saya pernah ditanya, emang KPK menargetkan orang NU? Enggaklah. KPK cinta banget NU, Muhammadiyah, dan ormas lainnya. Banyak kerja sama kami lakukan. KPK itu imparsial, independen. Tidak berpihak, kecuali kebenaran dan keadilan," ujar Giri.

    Untuk itu, Giri menyarankan agar masyarakat memperbanyak bertanya dan proaktif dalam forum-forum diskusi. "Forum-forum diskusi seperti itu penting. Karena metode perang pemikiran dan syaraf dalam mengendalikan otak manusia sekarang makin canggih," kata Giri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.