Cerita TB Hasanuddin Saat di Rumah BJ Habibie Tak Ada Makanan

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Riset dan Teknologi B. J. Habibie di kantornya, Jakarta, 1986.  Pria asal Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Pada 1978 BJ Habibie ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Dok.TEMPO/Ali Said

    Menteri Riset dan Teknologi B. J. Habibie di kantornya, Jakarta, 1986. Pria asal Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Pada 1978 BJ Habibie ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Dok.TEMPO/Ali Said

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan ajudan Presiden Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie, TB. Hasanuddin, memiliki kenangan indah dengan almarhum semasa bertugas di Istana. Ia menuturkan Habibie tidak pernah marah meski ia pernah berbuat kesalahan.

    Hasanuddin bercerita, tidak lama setelah Habibie dilantik menjadi Presiden, ia mendapat telepon dari Ketua Dewan Pertimbangan Agung Arnold Achmad Baramuli. Namun, kata dia, Baramuli menelepon menggunakan bahasa Bugis yang ia tidak pahami.

    Keesokan harinya, rumah Habibie di Patra Kuningan kedatangan rombongan keluarga besar dari Makassar menggunakan tiga unit bus. "Di rumah kelabakan, gak ada makanan," kata Hasanuddin di sela pemakaman Habibie di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

    Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini lantas meminta maaf kepada Habibie dan menjelaskan jika ada kesalahpahaman. "Saya bilang 'pak, ini ada missunderstanding'. Beliau jawab 'miss-nya di mana'," kata Hasanuddin.

    Ia pun kembali menjelaskan saat Baramuli menghubunginya dengan bahasa Bugis. Bukannya marah, kata Hasanuddin, Habibie hanya tersenyum sambil bertanya apakah dia mengerti bahasa Bugis atau tidak.

    "Beliau tanya 'terus kolonel tahu, gak, artinya?'. Saya jawab 'enggak'. Nah beliau cuma jawab 'Oh, kok begitu'," tuturnya.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.