Try Sutrisno Patahkan NKRI Bersyariah Versi PA 212

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi berjalan bersama Wakil Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno setelah pertemuan tertutup di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Menurut Mega, kedatangannya bersama Try memang khusus mengucapkan selamat agar tidak didahului yang lain. ANTARA

    Presiden Jokowi berjalan bersama Wakil Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno setelah pertemuan tertutup di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Menurut Mega, kedatangannya bersama Try memang khusus mengucapkan selamat agar tidak didahului yang lain. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Persaudaraan Alumni atau PA 212 Haikal Hassan mengatakan bahwa NKRI syariah yang menjadi salah satu rekomendasi Ijtima Ulama IV hanya istilah. Tapi Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno punya pendapat lain.

    Menurut Haikal, NKRI bersyariah sudah dirasakan masyarakat Indonesia selama ini. Hal itu terbukti dari keberadaan bank syariah, pembiayaan syariah, dan pernikahan cara syariah.

    Dia menganggap sebutan NKRI bersyariah tak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

    "Itu istilah, mbok ya kita itu taat kepada Allah SWT. Tetap jadi bangsa Indonesia tapi taat pada syariah Allah SWT, betul?" kata Haikal dalam diskusi tentang Pancasila di Hotel Grand Sahid Jaya hari ini, Senin, 12 Agustus 2019.

    Pendapat PA 212 langsung ditekuk oleh Try Sustrisno, Jenderal TNI Purnawirawan yang juga mertua Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.

    Try mengaku tak tahu soal NKRI bersyariah. Tapi, menurut dia, yang terpenting landasan dan ideologi NKRI adalah Pancasila.

    Pelaksanaan syariah atau hukum agama, kata Try Sutrisno, masuk ranah pribadi. Dia mencontohkan muslim harus melaksanakan syariah Islam, begitu pula pemeluk agama lain.

    "Itu sangat bebas, enggak boleh menganggu ibadah. Tapi terhadap NKRI, sesama warga negara melaksanakan Pancasila," kata Try Sutrisno menanggapi NKRI bersyariah

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.