Setya Novanto akan Bersaksi dalam Sidang Idrus Marham

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, tersenyum setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018. Setya Novanto kembali diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo terkait dengan kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

    Terpidana mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, tersenyum setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018. Setya Novanto kembali diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo terkait dengan kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Ketua DPR Setya Novanto dijadwalkan akan kembali bersaksi dalam sidang perkara suap proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa, mantan Sekretaris Jenderal Idrus Marham. Sidang akan berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 19 Februari 2019.

    Baca: Kawal PLTU Riau-1, Eni Saragih Sebut Dijanjikan Saham oleh Setya

    "Rencananya Pak SN," kata jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Lie Putra Setiawan dihubungi, Senin, 18 Februari 2019.

    Ini merupakan kesekian kalinya mantan Ketua Umum Golkar itu menjadi saksi dalam perkara PLTU Riau-1. Sebelumnya, Setya pernah bersaksi untuk terdakwa eks Wakil Ketua Komisi Energi DPR Eni Maulani Saragih, dan pemilik saham Blackgold Natural Resource Ltd, Johannes Budisutrisno Kotjo.

    Dalam perkara ini, KPK mendakwa Idrus bersama-sama dengan Eni Maulani Saragih menerima duit Rp 2,25 miliar dari Kotjo. KPK menyebut uang tersebut diberikan agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1.

    Ekspresi terdakwa Idrus Marham saat mendengar kesaksian Direktur Utama PLN Sofyan Basir dalam sidang kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dalam sidang tersebut, Sofyan mengungkap pernah menolak permintaan Mantan Ketua DPR Setya Novanto yang ingin menggarap proyek pembangunan pembangkit listrik di Pulau Jawa. TEMPO/Imam Sukamto

    Proyek tersebut rencananya dikerjakan PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PT PJBI), Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company Ltd yang dibawa oleh Kotjo.

    Baca: Setya Novanto Dapat Ganti Rugi Proyek Kereta Cepat Rp 6,4 Miliar

    Dalam dakwaan itu, KPK menyebut Kotjo berencana memberikan sejumlah uang dari proyek PLTU Riau-1 untuk Setya. Jumlahnya 24 persen dari nilai kontrak atau sekitar USD 6 juta.

    Setya dalam sidang sebelumnya mengatakan tak mengetahui soal rencana pemberian uang itu. Kotjo telah menjelaskan rencana pemberian itu ia buat tanpa sepengetahuan Setya.

    Selain itu, jaksa menyebut Setya merupakan orang pertama yang ditemui oleh Johanes untuk memuluskan proyek PLTU Riau. Pertemuan pertama terjadi pada 2016. Kotjo meminta bantuan Setya Novanto agar dipertemukan dengan pihak PLN.

    Untuk tujuan itu, Setya kemudian mengenalkan Kotjo kepada Eni. Setelah itu, Eni membantu memfasilitasi pertemuan antara Kotjo dengan pihak terkait, salah satunya Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Pertemuan tersebut dilakukan supaya Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1.

    Baca: Curhat Johannes Kotjo yang Gusar Tanggapi Kesaksian Setya Novanto

    Peran Setya beralih saat KPK menetapkan dirinya menjadi tersangka korupsi proyek KTP Elektronik. Sejak saat itu, Idrus Marham menggantikan posisi Setya sebagai Plt Ketua Umum Golkar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.