Setya Novanto akan Bersaksi dalam Sidang Idrus Marham

Reporter

Terpidana mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, tersenyum setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018. Setya Novanto kembali diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo terkait dengan kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta - Bekas Ketua DPR Setya Novanto dijadwalkan akan kembali bersaksi dalam sidang perkara suap proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa, mantan Sekretaris Jenderal Idrus Marham. Sidang akan berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa, 19 Februari 2019.

Baca: Kawal PLTU Riau-1, Eni Saragih Sebut Dijanjikan Saham oleh Setya

"Rencananya Pak SN," kata jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Lie Putra Setiawan dihubungi, Senin, 18 Februari 2019.

Ini merupakan kesekian kalinya mantan Ketua Umum Golkar itu menjadi saksi dalam perkara PLTU Riau-1. Sebelumnya, Setya pernah bersaksi untuk terdakwa eks Wakil Ketua Komisi Energi DPR Eni Maulani Saragih, dan pemilik saham Blackgold Natural Resource Ltd, Johannes Budisutrisno Kotjo.

Dalam perkara ini, KPK mendakwa Idrus bersama-sama dengan Eni Maulani Saragih menerima duit Rp 2,25 miliar dari Kotjo. KPK menyebut uang tersebut diberikan agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1.

Ekspresi terdakwa Idrus Marham saat mendengar kesaksian Direktur Utama PLN Sofyan Basir dalam sidang kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dalam sidang tersebut, Sofyan mengungkap pernah menolak permintaan Mantan Ketua DPR Setya Novanto yang ingin menggarap proyek pembangunan pembangkit listrik di Pulau Jawa. TEMPO/Imam Sukamto

Proyek tersebut rencananya dikerjakan PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PT PJBI), Blackgold Natural Resources dan China Huadian Engineering Company Ltd yang dibawa oleh Kotjo.

Baca: Setya Novanto Dapat Ganti Rugi Proyek Kereta Cepat Rp 6,4 Miliar

Dalam dakwaan itu, KPK menyebut Kotjo berencana memberikan sejumlah uang dari proyek PLTU Riau-1 untuk Setya. Jumlahnya 24 persen dari nilai kontrak atau sekitar USD 6 juta.

Setya dalam sidang sebelumnya mengatakan tak mengetahui soal rencana pemberian uang itu. Kotjo telah menjelaskan rencana pemberian itu ia buat tanpa sepengetahuan Setya.

Selain itu, jaksa menyebut Setya merupakan orang pertama yang ditemui oleh Johanes untuk memuluskan proyek PLTU Riau. Pertemuan pertama terjadi pada 2016. Kotjo meminta bantuan Setya Novanto agar dipertemukan dengan pihak PLN.

Untuk tujuan itu, Setya kemudian mengenalkan Kotjo kepada Eni. Setelah itu, Eni membantu memfasilitasi pertemuan antara Kotjo dengan pihak terkait, salah satunya Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Pertemuan tersebut dilakukan supaya Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1.

Baca: Curhat Johannes Kotjo yang Gusar Tanggapi Kesaksian Setya Novanto

Peran Setya beralih saat KPK menetapkan dirinya menjadi tersangka korupsi proyek KTP Elektronik. Sejak saat itu, Idrus Marham menggantikan posisi Setya sebagai Plt Ketua Umum Golkar.






KPK Ungkap Penyebab Buronan Kasus Korupsi e-KTP Paulus Tannos Gagal Ditangkap

10 hari lalu

KPK Ungkap Penyebab Buronan Kasus Korupsi e-KTP Paulus Tannos Gagal Ditangkap

KPK menyebut sempat mengendus keberadaaan Paulus Tannos di Thailand.


Para Koruptor Ini Mendadak Sakit Setelah Dicokok KPK: Lukas Enembe sampai Setya Novanto

23 hari lalu

Para Koruptor Ini Mendadak Sakit Setelah Dicokok KPK: Lukas Enembe sampai Setya Novanto

Lukas Enembe tampil dengan kursi roda setalah KPK tetapkan tersangka. Sebelumnya, beberapa koruptor mendadak sakit usai dicokok KPK, ada Setya Novanto


Beberapa Anggota DPR Ini Pernah Diadukan Ke MKD, Termasuk Effendi Simbolon

14 September 2022

Beberapa Anggota DPR Ini Pernah Diadukan Ke MKD, Termasuk Effendi Simbolon

Rekam jejak DPR, sudah beberapa anggota DPR yang dilaporkan kepada MKD. Setelah Setya Novanto dan Harvey Malaiholo, ada Puan dan Effendi Simbolon.


Inilah 2 Orang yang Pernah Ditolak Permohonannya sebagai Justice Collaborator

11 Agustus 2022

Inilah 2 Orang yang Pernah Ditolak Permohonannya sebagai Justice Collaborator

Tak semua orang yang mengajukan sebagai Justice Collaborator diterima. Berikut beberapa orang yang pernah ditolak permohonannya.


Satgas BLBI Sebut Nilai Aset Besan Setya Novanto yang Disita Mencapai Rp 2 Triliun

22 Juni 2022

Satgas BLBI Sebut Nilai Aset Besan Setya Novanto yang Disita Mencapai Rp 2 Triliun

Satgas BLBI menyatakan aset milik Bank Aspac yang disita mencapai Rp 2 triliun.


Satgas BLBI Sita Aset Besan Setya Novanto Pagi Ini

22 Juni 2022

Satgas BLBI Sita Aset Besan Setya Novanto Pagi Ini

Satgas BLBI menyita aset obligos PT Bank Aspac di Bogor hari ini. Satu dari dua pemilik bank tersebut merupakan besar mantan Ketua DPR Setya Novanto.


Pengadilan Tolak Gugatan Besan Setya Novanto Atas Perkara Utang BLBI Rp 3,57 T

15 Mei 2022

Pengadilan Tolak Gugatan Besan Setya Novanto Atas Perkara Utang BLBI Rp 3,57 T

Kedua obligor BLBI ini menggugat Kementerian Keuangan dan meminta pengadilan menyatakan mereka bukan penanggung utang Bank Aspac.


KPK Periksa 3 Saksi Dalam Kasus Korupsi e-KTP Untuk Tersangka Paulus Tannos

21 Maret 2022

KPK Periksa 3 Saksi Dalam Kasus Korupsi e-KTP Untuk Tersangka Paulus Tannos

KPK melanjutkan penyidikan kasus korupsi e-KTP untuk tersangka Paulus Tannos.


KPK akan Koordinasi dengan Bareskrim soal Penyidikan TPPU Setya Novanto

12 Maret 2022

KPK akan Koordinasi dengan Bareskrim soal Penyidikan TPPU Setya Novanto

Alex mengatakan KPK perlu mengetahui tindak pidana muasal Setya Novanto yang sedang disidik Bareskrim.


Kumham Benarkan Setya Novanto Sempat Berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin

2 Maret 2022

Kumham Benarkan Setya Novanto Sempat Berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin

Dirjen Lapas membenarkan Setya Novanto sempat berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin.