Saat Haedar Nashir Kukuh Jaga Marwah Muhammadiyah Tak Berpolitik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) menerima penghargaan Muhammadiyah Award dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan) pada acara Milad Muhammadiyah ke-106 di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Ahad, 18 November 2018. ANTARA/Mohammad Ayudha

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) menerima penghargaan Muhammadiyah Award dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan) pada acara Milad Muhammadiyah ke-106 di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Ahad, 18 November 2018. ANTARA/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir memilih tak mematuhi pernyataan seniornya Amien Rais. Sebelumnya Amien Rais mengatakan akan menjewer Haedar Nashir jika tak bersikap jelas di Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019.

    Baca juga: Soal Desakan Amien Rais ke Muhammadiyah, PAN: Itu Nasihat Tokoh

    Ancaman Amien-meski hanya dijewer-rupanya tak membuat Haedar tunduk. Ia mengatakan sikap Muhammadiyah dalam Pilpres 2019 tak akan berubah seperti sejak organisasi itu didirikan.

    “Tidak ada yang berubah dari Muhammadiyah dan tidak akan pernah berubah, Muhammadiyah tetap berdiri dengan kepribadian dan khittahnya,” ujar Haedar di sela menghadiri Muktamar Pemuda Muhmmadiyah ke XVII di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Senin 26 November 2018.

    Haedar menuturkan, yang dimaksud tak ada yang berubah dari Muhammadiyah yakni ketika organisasi itu dibentuk tahun 1912 di Yogyakarta oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Sejak dibentuk Muhammadiyah tak pernah terlibat politik praktis. Sikap Haedar ini pun seolah menyatakan bahwa ia akan tetap menjaga Muhammadiyah tetap berdiri sebagai organisasi netral dan tak mau terikat dengan politik praktis.

    “Setiap periode, sejak mulai didirikan oleh Kiai Dahlan sampai kapan pun, Muhammadiyah akan selalu mengambil jarak dari pergumulan politik praktis, itu sudah prinsip yang tak akan berubah,” ujar Haedar.

    Gestur Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais saat berbincang di ruang tunggu ketika mendatangi gedung KPK, Jakarta, Senin, 29 Oktober 2018. Kedatangan Amien untuk meminta KPK untuk tidak tebang pilih dalam menindak dan menuntaskan sejumlah perkara. TEMPO/Imam Sukamto

    Saat ditanya wartawan pada kesempatan yang sama, Amien Rais tak ingin menanggapi pernyataan Haedar Nashir tersebut.

    "Jadi (tanggapan) soal (jewer) Pak Haedar itu hal yang kecil-kecil, seperti jewer, genderuwo, sontoloyo, pertanyaan itu mbok (hal) yang gede," ujar Amien kepada awak media.

    Amien pun tak lagi melanjutkan responnya tentang pertanyaan soal ultimatumnya pada Haedar itu.

    Baca juga: Haedar Nashir: Muhammadiyah Tak Berubah, Tetap pada Khittahnya

    Padahal sebelumnya Amien Rais menyatakan Muhammadiyah harus menentukan sikapnya di Pilpres 2019.

    Muhammadiyah, menurut Amien Rais, tak boleh diam saja atau tidak jelas sikapnya dalam menentukan pemimpin bangsa ini untuk periode 2019-2024. "Sekali lagi, kalau sampai itu dilakukan maka saya jewer. Pemilihan presiden ini menentukan satu kursi dan jangan sampai bilang terserah," kata Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 1999-2004 itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?