Haedar Nashir: Muhammadiyah Tak Berubah, Tetap pada Khittahnya

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat melantik pengurus Perguruan Tapak Suci Periode 2018-2023 di Yogya. Dalam kesempatan itu Haedar juga mendapat gelar Pendekar Kehormatan dari Tapak Suci. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat melantik pengurus Perguruan Tapak Suci Periode 2018-2023 di Yogya. Dalam kesempatan itu Haedar juga mendapat gelar Pendekar Kehormatan dari Tapak Suci. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah akan tetap berdiri pada khittahnya sebagai organisasi yang nonpartisan.

    Baca juga: Ke Yogyakarta, JK Akan Buka Muktamar Pemuda Muhammadiyah ...

    “Tidak ada yang berubah dari Muhammadiyah dan tidak akan pernah berubah, Muhammadiyah tetap berdiri dengan kepribadian dan khittahnya,” ujar Haedar di sela menghadiri Muktamar Pemuda Muhmmadiyah ke XVII di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Senin 26 November 2018.

    Pernyataan Haedar Nashir menjawab Amien Rais yang sebelumnya mengatakan akan menjewer Ketua Umum Muhammadiyah itu jika tak bersikap jelas di Pemilihan Presiden 2019.

    Haedar menuturkan, yang dimaksud tak ada yang berubah dari Muhammadiyah yakni ketika organisasi itu dibentuk tahun 1912 di Yogyakarta oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Sejak dibentuk Muhammadiyah tak pernah terlibat politik praktis. Sikap Haedar ini pun seolah menyatakan bahwa ia akan tetap menjaga Muhammadiyah tetap berdiri sebagai organisasi netral dan tak mau terikat dengan politik praktis.

    “Setiap periode, sejak mulai didirikan oleh Kiai Dahlan sampai kapan pun, Muhammadiyah akan selalu mengambil jarak dari pergumulan politik praktis, itu sudah prinsip yang tak akan berubah,” ujar Haedar.

    Dalam semangat khittah yang pernah digagas dalam Muktamar Muhammadiyah 1971 di Makassar ditegaskan jika organisasi ini tak akan terikat dengan partai politik apapun dan menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik.

    Dalam tanwir Muhammadiyah pada 2002 di Denpasar, Bali juga ditegaskan Muhammadiyah berbeda dengan partai politik.

    Baca juga: Soal Desakan Amien Rais ke Muhammadiyah, PAN: Itu Nasihat Tokoh

    Sebelumnya, Amien Rais mengatakan akan menjewer Haedar Nashir jika Muhammadiyah tak bersikap dalam pemilihan presiden 2019. Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengatakan bukan merupakan fatwa jika pimpinan menyerahkan sendiri-sendiri ke kader terhadap siapa suaranya akan diberikan. Menurutnya dibutuhkan ketegasan demi terwujudnya pemimpin yang sesuai harapan.

    Muhammadiyah, menurut Amien Rais, tak boleh diam saja atau tidak jelas sikapnya dalam menentukan pemimpin bangsa ini untuk periode 2019-2024. "Sekali lagi, kalau sampai itu dilakukan maka saya jewer. Pemilihan presiden ini menentukan satu kursi dan jangan sampai bilang terserah," kata Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 1999-2004 itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.