Soal Penghadangan di Luar Batang, Nusron Wahid: Bukan Dendam

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nusron Wahid saat menghadiri pengumuman kepengurusan baru Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 22 Januari 2018. Nusron Wahid menjabat sebagai Korbid Pemenangan Pemilu Jawa Kalimantan di Partai Golkar. TEMPO/Subekti.

    Nusron Wahid saat menghadiri pengumuman kepengurusan baru Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 22 Januari 2018. Nusron Wahid menjabat sebagai Korbid Pemenangan Pemilu Jawa Kalimantan di Partai Golkar. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Golkar Nusron Wahid menepis dugaan pihak kepolisian yang menyebut penghadangan terhadap dirinya di Makam Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara karena dendam masyarakat. Polisi menduga masyarakat Luar Batang masih dendam kepada Nusron yang diklaim pernah menyebut Luar Batang adalah tempat yang kumuh.

    "Saya tidak pernah ngomong Luar Batang itu kumuh," kata Nusron Wahid saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 27 Oktober 2018.

    Baca: Cerita Nusron Wahid Dihadang Massa Saat Ziarah di Luar Batang

    Menurut Nusron, justru dirinya pernah mendatangi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, pada 30 Maret 2016. Saat itu, kata dia, dirinya meminta agar Ahok tidak menggusur makam Luar Batang kendati berada di wilayah yang sempit dan sulit untuk akses masuk masyarakat.

    Malah, kata Nusron, dia juga mengusulkan kepada Ahok agar kawasan di sekitar makam ditata, jalannya diperlebar, serta tanah-tanah yang kosong dibeli Pemda untuk dibuat parkir. Tujuannya, supaya lebih rapi dan lebih nyaman bagi peziarah. "Silakan cek di jejak digital soal ini," ujarnya.

    Baca: Nusron Wahid Minta Kubu Amien Rais Tak Melempar Isu Kriminalisasi

    Nusron menduga penghadangan itu dilakukan karena alasan politis dan berkaitan dengan insiden pembakaran bendera hitam berlafadz tauhid di Garut. Sebab Nusron dianggap figur mantan Ketua Umum GP Ansor dan pendukung calon presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi.

    "Mereka yang mendemo saya itu jelas berteriak 2019 ganti presiden di mesjid dan di depan makam Kramat Luar Batang. Mereka juga menyebut-nyebut Ansor dan Banser," kata Nusron.

    Terlebih, kata Nusron Wahid, dirinya rutin mengunjungi makam Luar Batang sejak 2016. Nusron berkunjung hampir setiap malam jumat, minimal satu bulan sekali. "Dan selama itu tidak pernah terjadi apa-apa. Ini kali pertama. Saya kira ini ada kaitannya dengan insiden di Garut," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.