Jumat, 16 November 2018

4 Tahun Jokowi, Kejaksaan Selamatkan Uang Negara Rp 2,29 Triliun

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jaksa Agung M. Prasetyo usai menandatangani nota kesepahaman dan kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di kantornya, Jakarta Selatan pada Rabu, 10 Oktober 2018. TEMPO/Andita Rahma

    Jaksa Agung M. Prasetyo usai menandatangani nota kesepahaman dan kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di kantornya, Jakarta Selatan pada Rabu, 10 Oktober 2018. TEMPO/Andita Rahma

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa Agung M Prasetyo mengatakan pihaknya telah menyelamatkan uang negara sebesar Rp 2,29 triliun dan US$ 263 ribu dari penindakan kasus korupsi selama empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

    Baca: 4 Tahun Jokowi - JK, Wiranto: Stabilitas Politik Panas Dingin

    "Kami menyelamatkan keuangan dan kekayaan negara melalui asset recovery sebagai pendekatan follow the function, follow the suspect, and follow the money," kata dia di Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis, 25 Oktober 2018.

    Pada 2018, Kejaksaan Agung mengumpulkan pendapatan dan penyelematan uang negara, baik dari tahap penyidikan dan penuntutan tindak pidana korupsi, sebanyak Rp 326 miliar. Angkanya berbeda dengan saat 2017, yaitu sebanyak Rp 343 miliar dan US$ 263 ribu. Sementara pada 2016 Kejaksaan Agung menyelamatkan Rp 734 miliar dan pada 2015 sebanyak Rp 624 miliar.

    Baca: 4 Tahun Bangun Infrastruktur, Jokowi: Bukan untuk Gagah-gagahan

    Sepanjang 2018, Kejaksaan telah menyelidiki 876 perkara, menyidik 589 perkara, menuntut 1.268 perkara, dan menjerat 704 terpidana.

    Jumlah penyelidikan pada 2017 terdapat sebanyak 1.331 perkara di tingkat penyelidikan. Sementara itu terdapat 1.364 perkara di tingkat penyidikan, sebanyak 1.819 perkara.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.