Jumat, 16 November 2018

Dirjen Kebudayaan: Larang Sedekah Laut Seperti Merusak Identitas

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga mengarak perahu yang berisi Sesajen yang akan dilepas ke laut saat pesta laut di Cituis, Tangerang, Banten (28/9). Tradisi pesta laut atau sedekah laut merupakan tradisi turun temurun sejak nenek moyang. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Sejumlah warga mengarak perahu yang berisi Sesajen yang akan dilepas ke laut saat pesta laut di Cituis, Tangerang, Banten (28/9). Tradisi pesta laut atau sedekah laut merupakan tradisi turun temurun sejak nenek moyang. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan Hilmar Farid mengatakan insiden perusakan sedekah laut di Pantai Baru, Srandakan, Bantul merupakan upaya menghapus identitas budaya Indonesia. Hilmar mengatakan orang tidak perlu takut pada tradisi dan adat yang ada di Indonesia selama ratusan tahun.

    Baca: Sedekah Laut Diteror, Sultan HB X: Jangan Merasa Benar Sendiri

    Menurut dia tradisi dan adat merupakan bagian dari local genius yang muncul dalam sejarah peradaban Indonesia. Hilmar mengatakan ada mekanisme bangsa Indonesia untuk mengadaptasi apapun yang masuk ke sini sesuai konteks kebudayaan.

    “Lha kalau ini mau dihapus ya nggak ada identitas budaya. Itu problem yang sangat serius,” kata Hilmar di sela pertemuan tingkat tinggi menteri dan pejabat eselon satu bidang kebudayaan negara-negara nggota ASEAN di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta, Senin, 22 Oktober 2018.

    Hilmar mengatakan upaya menghalangi bahkan merusak kegiatan tradisi dan upacara adat melanggar aturan. “Secara hukum aparat kepolisian harus bertindak sesuai aturan yang ada. Tak boleh ada perlakuan istimewa terhadap pelaku perusakan,” kata Hilmar.

    Pengajar Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mohammad Iqbal Ahnaf, mengatakan perusakan tradisi sedekah laut merupakan kekerasan atas nama agama yang kembali terulang. Ketidaktegasan polisi terhadap kelompok-kelompok tersebut membuat mereka leluasa melakukan kekerasan.

    Puluhan orang merusak perlengkapan sedekah laut pada Jumat malam, 12 Oktober 2018. Pelaku juga memasang tiga spanduk yang isinya tentang larangan sedekah laut. Acara itu adalah ungkapan rasa syukur nelayan yang digelar setiap awal panen ikan atau musim keempat dalam hitungan kalender Jawa.

    Acara itu biasanya diikuti serangkaian kegiatan budaya, di antaranya arak-arakan bergodo, mengarak ikan bakar yang dihias dalam bentuk gunungan, kesenian reog, tari gambyong. Panitia menyediakan 2.500 nasi gurih untuk dimakan bersama seluruh orang yang datang.

    Simak juga: Soal Teror Sedekah Laut, Buya Syafii: Jangan Takut Sama Mereka

    Sedekah laut mengundang 700 warga Pantai Baru Srandakan, 250 tamu undangan, dan pengunjung. Pada Sabtu pagi, 13 Oktober panitia tetap menggelar acara tersebut. Tapi, acara itu tidak sesuai rencana awal. Hanya sebagian kirab saja yang panitia gelar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.