Kesulitan Air Bersih, Ini Empat Keluhan Pengungsi Gempa Lombok

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo meninjau penanganan pengungsi dan berdialog dengan warga di Dusun Trengan, Kecamatan Pemenang Timur, Kabupaten Lombok Utara, 14 Agustus 2018. BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN

    Presiden Joko Widodo meninjau penanganan pengungsi dan berdialog dengan warga di Dusun Trengan, Kecamatan Pemenang Timur, Kabupaten Lombok Utara, 14 Agustus 2018. BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN

    1. Bantuan yang dijarah

    Seorang warga Kecamatan Bayan, Lombok Utara bernama Hero Utomo melaporkan dampak gempa ini menimbulkan aksi penjarahan truk pengantar bantuan yang kini mulai marak terjadi.

    Simak: Nasib Pengungsi Gempa Lombok yang Terkatung-katung

    Hal itu juga dibenarkan oleh Koordinator Forum Indonesia untuk Transparasi Anggaran (FITRA) Nusa Tenggara Barat (NTB) Everyn Kaffah. Akses transportasi yang terputus, membuat warga akhirnya tak bisa diam menunggu bantuan logistik. “Mereka akhirnya bergerak menghampiri bantuan untuk tetap bertahan,” kata Everyn.

    2. Akses air bersih semakin sulit

    Pasca gempa yang bertepatan dengan musim kemarau, sumur-sumur warga mengering. Sedangkan pipa untuk mengalirkan air bersih hancur tertimpa tanah longsor. “Rusaknya saringan air akhirnya membuat air menjadi keruh,” ucap Everyn.

    Baca: Cerita Pengungsi Gempa Lombok di Islamic Center: Minum Air Mentah

    Atin Dina Mariana, seorang pengungsi di Kota Mataram, mengatakan meminum air mentah dari keran. “Sehabis gempa itu airnya keruh. Tapi alhamdulillah kami tidak kenapa-kenapa,” kata dia. Untuk makan, Atin membawa kompor dari rumahnya untuk masak di tempat pengungsian.

    Sementara itu, Perusahaan Daerah Air Minum di Kabupaten Lombok Barat dan Mataram tak bisa berbuat banyak karena mata air yang tersisa juga berair keruh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.