Lepas Pemudik, Zulkifli PAN dan Rizal Ramli Kritik Jokowi

Reporter:
Editor:

I Wayan Agus Purnomo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua MPR Zulkifli Hasan melepas ratusan pemudik ke Sumatera Barat di Masjid At Tiin, Jakarta Timur, Minggu, 17Juni 2018.(dok MPR RI)

    Ketua MPR Zulkifli Hasan melepas ratusan pemudik ke Sumatera Barat di Masjid At Tiin, Jakarta Timur, Minggu, 17Juni 2018.(dok MPR RI)

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua tokoh Minangkabau, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan dan mantan Menteri Koordianator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mencuri kesempatan untuk 'berkampanye' dalam acara pelepasan ratusan pemudik asal Sumatera Barat bertema 'Pulang Basamo' di kompleks Masjid At-Tin Jakarta, Ahad, 17 Juni 2018. Keduanya sama-sama mengkritik kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, yang akan maju kembali menjadi calon presiden di Pilpres 2019.

    Adapun Zulkifli Hasan, lewat Rakernas PAN, dimandatkan maju sebagai calon presiden di Pilpres mendatang. Sementara Rizal Ramli, sudah sejak 5 Maret lalu mendeklarasikan diri menjadi capres, kendati belum memiliki kendaraan politik.

    Mendapat giliran lebih awal memberikan sambutan, Zulkifli menyinggung Rizal Ramli yang ingin maju sebagai capres. Namun menurut Zulkifli, manuver Rizal Ramli justru tidak terlihat akhir-akhir ini. "Wah, Pak Rizal ini kalau menyampaikan pemikiran-pemikiran tentang ekonomi, luar biasa. Saya mengikuti terus. Tapi terakhir-terakhir ini agak kurang tampil, Bung. Harus meningkat," kata Zulkifli.

    Baca juga: Fadli Zon Bilang Gerindra Tunggu Jokowi Umumkan Cawapres

    Usai menyinggung Rizal, Ketua MPR RI itu pun melanjutkan sambutannya. "Bapak, Ibu, boleh bertanya enggak saya, ini negeri kita sehat apa sakit?" tanya Zulkifli kepada para peserta mudik dari atas panggung.

    "Sakit," sahut peserta mudik.

    "Waduh, coba ulang, jadi sehat apa sakit?" ujar Zulkifli.

    "Sakit," sahut peserta mudik. "Parah," sambung beberapa pria.

    "Kata bapak-bapak, udah sakit, parah lagi. Bukan kata saya ini," ujar Zulkifli sambil tertawa. Dia pun kembali mengulang pertanyan yang sama, dan mendapat jawaban yang sama sebelum beralih ke pertanyaan selanjutnya.

    "Baik, sekarang saya tanya lagi, rakyat kita kalau dilihat hidupnya senang apa susah?" tanya Zulkifli.

    "Susah," jawab sebagian peserta mudik.

    "Senang apa susah?" ulang Zulkifli.

    "Susah," jawab peserta mudik lagi.

    "Wah, kalau saya lanjutkan, nanti Pak Fadli Zon bilang ganti. Jadi tidak usah saya teruskan, cukup paham saja," ujar Zulkifli disambut gelak tawa peserta mudik dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, yang juga turut hadir dalam acara tersebut.

    Baca: Diusulkan Cawapres 2019, Jusuf Kalla: Saya Tidak Bisa Maju Lagi

    Tak mau ketinggalan dengan Zulkifli, Rizal Ramli yang mendapat kesempatan memberi kata sambutan setelah Zulkifli, langsung 'berkampanye'. Dia mengkritik pemerintahan saat ini yang menurutnya, terlalu pro terhadap Cina. Untuk itu, ujar dia, hal pertama yang akan dilakukan jika terpilih menjadi presiden pada 2019, yakni mengembalikan politik luar negeri Indonesia menjadi independen dan bebas aktif. "Kita tidak boleh menjadi antek-antek Amerika ataupun Beijing. Kita harus independen," ujar Rizal.

    Beberapa agenda politik lainnya yang akan dilakukan jika menjadi presiden, lanjut Rizal, yakni menangkap 100 orang paling 'brengsek' di Indonesia. Kemudian, di hari kedua menjabat presiden, dia akan mengubah sistem politik Indonesia dengan mengeluarkan peraturan anggaran partai politik didanai negara. Dan di hari ketiga pemerintahannya, dia akan menggenjot perekonomian Indonesia sebesar 10 persen per tahun.

    Baca: Ketika Jusuf Kalla Bicara Soal Kriteria Cawapres Jokowi

    "Dua kali dari saat ini. Saya kira pemerintah saat ini tidak akan mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen sampai 2019, karena banyak utang," ujar Rizal.

    Begitulah keduanya 'berkampanye' dan riuh disambut tepuk tangan serta teriakan 'Allahu Akbar' peserta mudik usai keduanya berpidato. Namun, keduanya malah kompak mengelak saat ditanya seputar Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 oleh awak media seusai acara.

    DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.