Wakil Ketua DMI Bantah Ada Masjid Terpapar Radikalisme

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga sebagai Ketua Dewan Masjid Indnesia (DMI)  didampingi Wakapolri Komjen Pol Syafruddin selaku Wakil Ketua Umum DMI, dan Ustad Abdul Somad di rumah jabatan Wakil Presiden Jl. Diponegoro Jakarta pada Minggu, 4/2. Foto/Biro Pers Sekretariat Wakil Presiden

    Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga sebagai Ketua Dewan Masjid Indnesia (DMI) didampingi Wakapolri Komjen Pol Syafruddin selaku Wakil Ketua Umum DMI, dan Ustad Abdul Somad di rumah jabatan Wakil Presiden Jl. Diponegoro Jakarta pada Minggu, 4/2. Foto/Biro Pers Sekretariat Wakil Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Syafruddin membantah ada masjid yang terpapar radikalisme di Jakarta. Ia juga yakin tempat ibadah tak akan digunakan untuk menyebar paham radikal.

    Syafruddin mengatakan masjid tak mungkin terpapar karena berbentuk benda. "Masjid itu bukan orang. Jadi saya rasa alamat itu tidak tepat ditujukan kepada masjid. Tempat bersih, tempat suci, masjid itu," kata dia di Kantor Pusat DMI, Jakarta pada Sabtu, 9 Juni 2018.

    Isu masjid di Jakarta terpapar radikalisme muncul usai pertemuan antar tokoh agama, praktisi sosial, budaya dan pendidikan di Istana Merdeka, Jakarta pada Senin, 4 Juni lalu. Presiden Joko Widodo bersama tamunya saat itu membahas paham radikal yang diajarkan di sejumlah masjid di Jakarta.

    Baca: Jusuf Kalla Belum Dapat Data Soal 40 Masjid Terpapar Radikalisme

    Kemudian Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyatakan ada 40 masjid yang terpapar radikalisme di wilayahnya. Data itu ia dapatkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Alissa Wahid.

    Kepala Badan Intelejen Negara Budi Gunawan juga membenarkan ucapan Sandiaga. Dia menyatakan ada 40 masjid dan pondok pesantren itu dalam pantauan lembaganya terkait radikalisme.

    Syafruddin membantah pernyataan tersebut dan meminta semua pihak untuk berhati-hati bicara. "Ini bulan Ramadan. Jangan kita berpolemik di opini publik apalagi yang kita polemikkan tempat ibadah, masjid," kata Wakil Kepala Kepolisian RI itu.

    Baca: BNPT Diminta Jelaskan Metodologi Kampus Terpapar Radikalisme

    Ia juga mengajak masyarakat bekerja sama dengan pengurus masjid dan pengurus DMI berserta lembaga lain untuk menjaga masjid agar tidak digunakan sebagai tempat penyebaran paham radikal atau hal negatif lainnya. DMI sendiri telah menjalankan program dengan pendekatan lembut seperti program kebersihan, ekonomi berbasis masjid, hingga wisata religi berbasis masjid untuk menjaga masjid.

    Terkait penceramah di masjid, Syafruddin menyerahkan pengawasannya kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama. Menurut dia, DMI hanya bertugas mengurus bendanya saja. "DMI tugasnya hanya mengatur dan menyiapkan fasilitas, siapkan tempat ibadah. Tidak mengatur orang," ujarnya.

    Baca: Polri Akan Menelusuri Informasi 40 Masjid Terpapar Radikalisme


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.