JK: Perbedaan Partai Nasionalis dan Partai Agama Semakin Tipis

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla berbuka puasa bersama pengurus Dewan Masjid Indonesia (MDI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 25 Mei 2018. Foto: Biro Pers Wakil Presiden

    Wakil Presiden Jusuf Kalla berbuka puasa bersama pengurus Dewan Masjid Indonesia (MDI) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, 25 Mei 2018. Foto: Biro Pers Wakil Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyinggung soal perbedaan partai nasionalis dan partai agama dalam sejarah perpolitikan Indonesia. JK mengatakan, saat ini kondisinya telah berbeda.

    "Sekarang situasi itu perbedaannya makin kecil, antara partai yang dulu dikatakan nasional dan partai agama," kata JK dalam sambutannya saat acara buka bersama di kantor DPD Golkar DKI Jakarta, Jumat, 1 Juni 2018.

    Baca: Buka Puasa Bersama Partai Golkar, JK dan Habibie Dijadwal Hadir

    JK menghadiri acara buka bersama yang diselenggarakan Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar. Hadir pula politikus senior Golkar lainnya, seperti Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar Akbar Tandjung, Ketua Dewan Pembina Aburizal Bakrie, dan Ketua Dewan Pakar Agung Laksono.

    Acara itu dibuka Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan dihadiri oleh jajaran pimpinan pusat dan daerah partai berlambang pohon beringin itu.

    JK mengatakan acara buka puasa bersama menjadi contoh tipisnya perbedaan ideologi antarpartai. "Partai lain belum ada acara buka puasa, tapi Golkar sudah melaksanakan buka puasa," kata JK.

    Lantaran perbedaan berbasis ideologi nasionalisme dan agama sudah tipis, lanjut JK, sebuah partai harus mencari indikator lain agar berbeda dari partai lainnya. JK mengatakan hal ini harus diupayakan oleh seluruh pengurus dan kader partai.

    Baca: Cerita JK yang Dilarang Makan dan Minum ketika Ramadan di Spanyol

    "Tidak ada lagi perbedaan yang mendalam antara Golkar dan PPP, misalnya, atau dengan partai-partai yang lain," ujar Kalla. "Karena itulah yang membedakannya ialah prestasi, program yang baik, dan pelaksanaan yang baik dari kita semua."

    JK mengatakan pada akhirnya tujuan akhir setiap partai adalah untuk kemajuan bangsa. Menurut dia, Golkar memiliki sejarah masa lalu yang positif dan negatif yang dapat menjadi pelajaran untuk kemajuan politik, ekonomi, dan sebagainya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.