GP Ansor: Kerusuhan Mako Brimob Jangan Diatasi dengan Cara Biasa

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota keluarga berdoa di samping peti jenazah Briptu Fandy Setyo Nugroho di rumah duka, di Kompleks Polri, Jatirangga, Bekasi, 9 Mei 22018. Almarhum menjadi salah satu korban meninggal akibat insiden kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Depok. ANTARA/Risky Andrianto

    Anggota keluarga berdoa di samping peti jenazah Briptu Fandy Setyo Nugroho di rumah duka, di Kompleks Polri, Jatirangga, Bekasi, 9 Mei 22018. Almarhum menjadi salah satu korban meninggal akibat insiden kerusuhan di Rutan Mako Brimob, Depok. ANTARA/Risky Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas menilai penguasaan dan pembangkangan para narapidana teroris yang menimbulkan kerusuhan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat sebagai kasus serius yang tidak bisa ditangani biasa saja. “Dampaknya sangat luar biasa."

    Menurut Yaqut, para teroris itu memiliki alat komunikasi yang membuat mereka bisa berhubungan dengan dunia luar. “Mereka seolah di atas angin atas kasus ini.” Dalam rilisnya Kamis dini hari, 10 Mei 2018, anggota DPR RI dari Fraksi PKB itu menyatakan tidak ingin jadi bahan olok-olok karena kalah mengatasi tekanan para teroris.

    Baca: Polisi Klaim Sudah Kendalikan Kerusuhan di Mako Brimob

    "Saya minta aparat mempertimbangkan betul langkah taktis tersebut," kata Yaqut. Mengutip mantan Presiden AS John F Kennedy, Yaqut mengatakan selalu ada risiko dan biaya, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit daripada tidak melakukan apa-apa.

    “Ada kaidah usul fikih, mudarat yang lebih berat dihilangkan dengan mudarat yang lebih ringan.”

    Yaqut meminta aparat segera bertindak tegas mengakhiri "drama" mencekam lebih dari 28 jam di Mako Brimob. "'Drama' ini harus diakhiri, sudah lebih 28 jam para teroris menguasai Mako Brimob.” Ia meminta aparat mengambil tindakan tegas sesegera mungkin.

    Baca: Lima Jenazah Kerusuhan Mako Brimob Dijemput Keluarga

    Ia menilai baik langkah negosiasi. Tapi jika sudah bisa diprediksi akan buntu dan dibutuhkan tindakan represif, sebaiknya dilakukan. "Toh, tidak ada jaminan juga korban tidak akan bertambah," kata Yaqut yang juga anggota DPR dari Fraksi PKB itu.

    Yaqut menyatakan tindakan yang dilakukan para narapidana terorisme yang menimbulkan kerusuhan Mako Brimob itu sudah melampaui batas dan melecehkan kewibawaan Polri. Karenanya, ini menimbulkan spekulasi negatif yang masif beredar luas di masyarakat sehingga harus dihentikan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.