Kasus Amin Santono, Ketua DPR Mendukung Pemberantasan Korupsi

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Komisi IX DPR, Amin Santono (kanan), mengenakan rompi tahanan KPK pasca OTT di Gedung KPK, Jakarta, 6 Mei 2018. KPK menemukan uang Rp 400 juta yang diduga diterima Amin dari seorang kontraktor bernama Ahmad Ghiast. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Anggota Komisi IX DPR, Amin Santono (kanan), mengenakan rompi tahanan KPK pasca OTT di Gedung KPK, Jakarta, 6 Mei 2018. KPK menemukan uang Rp 400 juta yang diduga diterima Amin dari seorang kontraktor bernama Ahmad Ghiast. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Jakarta-Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo berkomitmen mendukung pemberantasan korupsi. Pernyataan Bambang disampaikan menanggapi ditangkapnya anggota Komisi Keuangan DPR Amin Santono dan tiga orang tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    "Mengingatkan kembali anggota DPR RI agar selalu menjaga serta menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat," ujar Bambang melalui keterangan tertulisnya, Senin, 7 Mei 2018.

    Baca: Demokrat Berhentikan Amin Santono secara Tidak Hormat

    Bambang meminta anggota DPR mematuhi ketentuan Peraturan DPR RI Nomor 1 tahun 2015 tentang Kode Etik DPR RI, khususnya Pasal 4 ayat (2) yang berbunyi, anggota dilarang melakukan hubungan dengan mitra kerjanya untuk maksud tertentu yang mengandung potensi korupsi, kolusi dan nepotisme. Bambang juga meminta KPK untuk lebih mengedepankan aspek pencegahan dalam pemberantasan korupsi.

    Sebelumnya KPK menetapkan Amin Santono sebagai tersangka, Sabtu, 5 Mei 2018.  Anggota Fraksi Partai Demokrat itu diduga menerima hadiah terkait usulan dana keuangan daerah pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2018. "Penetapan dilakukan setelah KPK melakukan pemeriksaan selama 1x24 jam dilanjutkan gelar perkara,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang.

    Simak: Begini Kronologi OTT Anggota DPR Amin Santono

    KPK juga menangkap pejabat pejabat Kementerian Keuangan  Yaya Purnomo dalam kasus yang sama. Yaya merupakan Kepala Seksi Pengembangan dan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Pemukiman pada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan.

    Dua kontraktor sebagai pihak pemberi suap, yaitu Eka Kamaluddin dan Ahmad Ghiast, kata Saut, ikut diciduk. Amin dan dua kontraktor itu ditangkap bersama-sama di sebuah restoran Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, pada Jumat, 4 Mei 2018, pukul 19.30. Sedangkan Yaya ditangkap di rumahnya di Bekasi pada hari yang sama.

    REZKI AVIONITASARI | ALFAN HILMI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.