Seperti Apa Skenario Pura-Pura Gila untuk Setya Novanto

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan ketua DPR, Setya Novanto melambaikan tangannya dari dalam mobil tahanan setelah mengikuti sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 24 April 2018. Setya Novanto divonis hukuman 15 tahun penjara karena dinilai terbukti melakukan korupsi proyek E-KTP tahun anggaran 2011-2013.  TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa mantan ketua DPR, Setya Novanto melambaikan tangannya dari dalam mobil tahanan setelah mengikuti sidang pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 24 April 2018. Setya Novanto divonis hukuman 15 tahun penjara karena dinilai terbukti melakukan korupsi proyek E-KTP tahun anggaran 2011-2013. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan kalau ada rencana membuat Setya Novanto menjadi gila selama menjalani persidangan kasus korupsi e-KTP. Tawaran itu dilontarkan seseorang bernama Victor kepada Fredrich Yunadi dalam percakapan telepon antara keduanya.

    Rekaman percakapan diambil pada 18 Desember 2017 saat Fredrich sudah tidak menjadi kuasa hukum Setya Novanto. Rekaman itu dibuka pada sidang dengan terdakwa dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo, dengan saksi Setya Novanto di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat 27 April 2018.

    BACA: 5 Bantahan Setya Novanto dalam Sidang Bimanesh Sutarjo

    Begini isi percakapan tersebut:

    Fredrcih Yunadi (FY): Bagaimana sekarang?

    Viktor (V): Heh, ini saya kan ngeliat itu yang klien itu, pak Fredrich

    FY: Siapa?

    V: Pak Setnov

    FY: He-eh bagaimana?

    V: Itu kan dianggap orang kan bermain-main berpura-pura gitu

    FY: iya

    V: Kalau mau, ada temen saya, dia jago. Dia jadi selalu sidang itu dibikin gila, dokter periksa dia gila. Ah, nanti abis itu cabut lagi dia gilanya

    FY: Emang bisa?

    V : Bisa. Dia di Bangka, di Bangka nih

    FY: Ooh

    V: He-eh, kemarin itu saya bilang 'Kamu bener yakin?', 'Yakin saya kirim hantu gunung,'. Nanti pas diperiksa gila. Ah ya di Bangka itu buktinya dia bilang. Jadi saya kasihan juga orang udah kayak gitu udah tahan

    FY: Iya

    V: Terlepas dia salah, tapi kan jangan kita perlakukan orang udah kayak gini

    FY: Iya seperti binatang diberlakukan

    V: Saya kemanusiaan saja lah, saya ngeliat bukan. Saya lagi cari cari bagaimana masuk ke keluarga dia, kalau bisa, kalau dia mau, kita buktikan

    FY: begitu ya?

    V: Iya Firman Wijaya

    FY: Dia kan, dia gak dia, dia gak deket dia

    V: He-eh. Jadi kalau Pak Fredrich kan udah deket tuh

    FY: Heh, percuma

    V: Kalau mau

    FY: Firman, sebenarnya kan tidak diterima itu juga karena kan dia suka, pura-pura kan jadi anak buahnya Maqdir gitu masuknya

    V: Oh itu, tapi kenapa dia kenapa mundur?

    FY: Saya gak suka sama Maqdir

    V: Oh bener. Bener. Belagu dia

    FY: Iya. Memang enggak suka saya sama dia. Ya coba nanti saya bicarakan deh

    V: Kalau bagus, masuk, kan sidang ini kita kerjain dia

    FY: he eh he eh

    V: jadi saya bilang bisa sembuh lagi enggak. Sembuh. Pokoknya kita setiap sidang kita bikin dia gila

    FY: Begitu ya?

    V: He eh. Nanti diperiksa dokter pun, dia jadi gila.

    FY: Memang bisa.. bisa begitu? Kamu yakin bisa?

    Baca: Setya Novanto Stres Divonis 15 Tahun Penjara

    Kemudian, jaksa penuntut umum KPK Takdir Sulhan pun bertanya ke Setya Novanto. “Apakah saksi tahu ini suaranya Pak Fredrich?”

    “Kurang ingat, tapi kumisnya kedengaran,” jawab Setya Novanto yang mengundang tertawa pengunjung sidang.

    “Dalam percakapan disebut nanti diperiksa dokter pun jadi gila? Apakah dokter yang disebut dalam percakapan itu tahu siapa maksudnya?” tanya jaksa Roy Riady.

    Simak: Pemilu 2019, Komisi Pemilihan Umum Akan Melarang Mantan Koruptor untuk Nyaleg

    “Tidak tahu maksudnya, tidak pernah membicarakan,” jawab Setya Novanto.

    Novanto menjadi saksi untuk terdakwa dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo yang didakwa bekerja sama dengan advokat Fredrich Yunadi untuk menghindarkan Ketua DPR ini diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi KTP-Elektronik.

    ROSENO AJI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?