Mengganti Mahyudin, Airlangga Bantah Tawarkan Posisi Menteri

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahyudin:  Banyak yang Mengganggu Ideologi Negara

    Mahyudin: Banyak yang Mengganggu Ideologi Negara

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto membantah telah menawarkan posisi menteri untuk Mahyudin setelah menggantinya dari jabatan wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Ia mengaku tidak memberikan iming-iming apapun Mahyudin.

    "Belum ada pembahasan," kata Airlangga sebelum menerima kunjungan PDI Perjuangan di kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Selasa 20 Maret 2018. Airlangga menganggap penggantian Mahyudin adalah hal biasa.

    Baca:
    Menolak Digantikan, Mahyudin: Golkar Bukan ... Mahyudin Menolak Digantikan Titiek Soeharto

    DPP Partai Golkar menggelar rapat pleno pada Ahad malam, 18 Maret 2018. Rapat pleno itu memutuskan mengganti Ketua Fraksi Robert Kardinal dengan Melchias Markus Mekeng dan mengganti Mahyudin dengan Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

    Mahyudin, Wakil MPR dari Fraksi Partai Golkar, tak dapat menerima alasan penggantian itu. Ia tak menerima alasan pergantian untuk penyegaran atau rotasi jabatan dari internal partai. Ia juga mengungkapkan adanya iming-iming jabatan lain pasca pencopotan nantinya.

    Baca juga: Sekjen Golkar Bantah Pergantian Mahyudin ...

    Mahyudin menanggapi rencana pergantian itu dengan dingin. Mahyudin menyatakan tak akan berkonflik dengan partai penguasa Orde Baru itu. Namun ia akan membela diri dan mengupayakan haknya. Partai Golkar, kata dia, bukan milik Airlangga Hartarto. “Milik semua, termasuk saya," kata Mahyudin, Senin, 19 Maret 2018.

    Airlangga membantah bahwa Mahyudin menolak rencana pergantian kursi pimpinan MPR. Menurut dia, tidak ada perlawanan dari Mahyudin. “Semua dalam proses, semua akan indah pada waktunya."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.