Setya Tulis Nama Ibas di Catatannya, Demokrat: Serangan Ngawur

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa Setya Novanto, ikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, 1 Februari 2018. Dalam sidang ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Chairuman Harahap, Hotma Sitompul, dan Setiabudi Arianta, yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum KPK terkait kasus korupsi e-KTP. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa Setya Novanto, ikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, 1 Februari 2018. Dalam sidang ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Chairuman Harahap, Hotma Sitompul, dan Setiabudi Arianta, yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum KPK terkait kasus korupsi e-KTP. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan akan meminta klarifikasi terdakwa kasus korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), Setya Novanto, karena menuliskan nama Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Muhammad Nazaruddin dalam buku catatannya. “Kami akan siapkan klarifikasi segera,” ucap Hinca saat dihubungi Tempo, Selasa, 6 Februari 2018.

    Ibas, anak kedua Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono, ujar Hinca, tidak menerima dana apa pun dari proyek e-KTP. Ia tidak menanggapi, apakah Nazaruddin, bekas Bendahara Umum Partai Demokrat, terlibat dalam proyek itu. “Tulisan begitu kok ditanggapi,” tutur Hinca.

    Baca:
    Setya Novanto Tunjukkan Buku Catatan Tertulis...
    Saat Setya Novanto Terkejut Namanya Masuk...

    Menjelang sidang lanjutan pada Senin, 5 Februari 2018, Setya Novanto sempat membuka buku catatannya yang bersampul hitam. Awak media yang mengerumuninya melihat isi buku itu. Pada salah satu halaman buku tersebut, tertulis nama Nazaruddin dan Ibas. Di atas dua nama itu, tertulis justice collaborator.

    Nama Nazaruddin berada persis di bawah tulisan justice collaborator. Di bawah nama Nazaruddin, Setya menggambar dua tanda panah. Tanda panah pertama berwarna hitam dan tertulis nama Ibas. Ada juga tanda panah berwarna merah di bawah nama Ibas dan tercantum angka USD 500 ribu.

    Nama Nazaruddin disebut berkali-kali dalam sidang kasus e-KTP. Ia disebut membagikan jatah uang proyek e-KTP kepada sejumlah anggota Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

    Baca juga:
    Laporkan Firman Wijaya ke Peradi, Demokrat Berharap Ada Mediasi

    Partai Demokrat Laporkan Pengacara Setya Novanto ke Peradi

    Hinca menganggap apa yang ditulis Setya dalam bukunya bukanlah fakta hukum. Pengajuan status justice collaborator adalah urusan Setya dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Hinca mengaku akan melawan siapa pun, tak terkecuali Setya, yang mengaitkan kasus dugaan korupsi e-KTP dengan Ibas. Sebab, menurut dia, putra Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono itu tidak menerima apa pun dari proyek megakorupsi tersebut. Menurut Hinca, Setya telah melakukan serangan politik. “Serangan politik kasar dan ngawur. Skenario jahat seperti ini pasti kami lawan,” tutur Hinca.

    Infografis: Ini Profil 60 Anggota DPR yang Diduga Terlibat Kasus E-KTP  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.