Minggu, 22 September 2019

Penasihat Hukum Setya Novanto Membantah Kliennya Berbohong

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP, Setya Novanto dipapah petugas saat memasuki ruang sidang untuk menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 13 Desember 2017. Sidang tersebut sempat diskors karena ada perdebatan terkait kondisi kesehatan Novanto. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP, Setya Novanto dipapah petugas saat memasuki ruang sidang untuk menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 13 Desember 2017. Sidang tersebut sempat diskors karena ada perdebatan terkait kondisi kesehatan Novanto. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Penasihat hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail, menolak kliennya disebut berbohong. Menurut dia, sejak Jumat pagi pekan lalu, 8 Desember 2017, ia meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar terdakwa korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) itu dirujuk ke rumah sakit karena sedang tidak sehat. Namun permintaan itu tak pernah digubris. "Jangankan dibawa, dijawab saja enggak," ujar Maqdir, Rabu, 13 Desember 2017. 

    Maqdir menyampaikan bantahan itu terkait dengan KPK yang akan mempertimbangkan memperberat tuntutan hukuman terhadap Setya lantaran terindikasi kuat berbohong dalam sidang perdana, Rabu. Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan Setya bisa dituntut hukuman maksimal jika terus bersikap tak kooperatif. "Ancaman hukuman maksimalnya seumur hidup atau paling lama 20 tahun penjara," katanya, di Jakarta, Rabu. 

    Baca:
    KPK Akan Perberat Tuntutan Setya Novanto karena Diduga Berbohong
    Jaksa KPK Sudah Prediksi Skenario Sakit Setya Novanto di Sidang

    Kemarin, Setya diduga berbohong dan berpura-pura sakit saat hakim akan memulai persidangan. Setya tak menjawab hakim yang berusaha mengecek identitas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI itu karena alasan diare.

    Selama persidangan, Setya terlihat hanya menundukkan kepala. Setelah diam lama, mantan Ketua Umum Golkar itu mengaku sakit diare dan bolak-balik ke toilet hingga 20 kali. "Saya sakit diare tapi enggak dikasih obat sama dokter," ujarnya.

    Jaksa KPK, Irene Putri, membantahnya. Menurut dia, dokter di Rumah Tahanan KPK, Sinta, tidak mendapat keluhan sakit diare dari Setya. "Keluhan terdakwa batuk, maka dikasih obat batuk," kata Irene. Ia menuding Setya berbohong karena hasil pemeriksaan dokter di KPK menyebut Setya baik-baik saja.

    Baca:
    Sidang Setya Novanto, Hakim: Saya Lihat Terdakwa Bisa Bisik-bisik...

    Sidang sempat tertunda dua kali untuk menunggu Setya diperiksa. Tiga orang dokter spesialis saraf, jantung, dan penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dipanggil untuk memeriksa Setya. Ketiga dokter itu menyatakan Setya dalam keadaan sehat dan kuat menjalani persidangan. Dari hasil pemeriksaan, tak ditemukan gejala seperti yang dikeluhkan terdakwa. "Yang bersangkutan mengeluh berdebar-debar, tapi hasil pemeriksaan itu tidak ada," kata Dono Antono, dokter spesialis jantung. 

    Tim jaksa sudah memprediksi akan adanya skenario drama dalam sidang perdana. Sebab, bukan hanya satu-dua kali Setya beralibi sakit ketika hendak diperiksa saat masih penyidikan. "Skenario sakit itu kami yakini akan ada," tutur Irene. Dia akhirnya membacakan dakwaan Setya Novanto pukul 17.13.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.