Pilpres 2019, Gatot Nurmantyo Bisa Jadi Senjata Rahasia Jokowi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi bersalaman dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo seusai berjalan kaki menuju upacara peringatan HUT TNI di Dermaga Indah Kiat Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017.  Selain rombongan kepresidenan, beberapa kendaraan pejabat pemerintah juga terjebak macet. Biro Pers Presiden

    Presiden Jokowi bersalaman dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo seusai berjalan kaki menuju upacara peringatan HUT TNI di Dermaga Indah Kiat Cilegon, Banten, 5 Oktober 2017. Selain rombongan kepresidenan, beberapa kendaraan pejabat pemerintah juga terjebak macet. Biro Pers Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo berpeluang besar menjadi calon wakil presiden, yang bisa mendampingi Joko Widodo, dalam pemilihan presiden 2019. Sebab, Menurut Burhanuddin, elektabilitas Gatot berada di peringkat kedua setelah Ahok.

    "Kalau dilihat dari survei hari ini, Pak Gatot memang potensial menjadi senjata rahasia Jokowi," katanya dalam acara diskusi, yang bertajuk "Siapa Wapres Jokowi 2019?" dan digelar Ormas Pro Jokowi (Projo) di Warung Solo, Kemang, Jakarta Selatan, Jumat, 20 Oktober 2019.

    Baca: Tiga Cawapres Jokowi versi Charta Politika: Gatot, Tito dan SMI

    Hasil survei Indikator Politik sebelumnya mencatat ada tiga nama yang dinilai publik paling layak menjadi pendamping Jokowi dalam pilpres 2019. Ketiga nama tersebut adalah Gatot, Sri Mulyani Indrawati, dan Tito Karnavian.

    Menurut Burhanuddin, sosok wakil presiden yang dipilih Jokowi nanti sangat menentukan kemenangannya. Dibandingkan Ahok, nama Gatot lebih pas karena para pemilih Ahok sebenarnya sama dengan para pemilih Jokowi.

    Baca: Begini Kalkulasi SMRC Jika Gatot Nurmantyo Ikut Pilpres 2019

    Nama Gatot pun dianggap tepat karena elektabilitasnya termasuk tinggi. Selain itu, kata Burhanuddin, para pemilih Gatot berasal dari kantong suara yang sama sekali berbeda dengan basis pemilih Jokowi.

    "Karena suara Gatot dari sisi elektabilitas, demografi, dan pilihan politik lebih besar peluangnya menggerogoti basis suara Prabowo. Terutama mereka yang di 2014 tidak memilih Pak Jokowi," ujarnya.

    Kendati demikian, masih ada persoalan yang perlu diselesaikan Gatot jika dirinya maju menjadi calon wakil presiden. Meski secara elektabilitas sangat baik, Gatot belum punya kemampuan dalam bidang teknokrasi, terutama dalam hal memerintah (governing).

    "Kan tadi saya bilang, untuk menjadi wapres kan bukan semata-mata menang, tapi juga governing. Pada titik governing ini, Pak Gatot harus punya nilai tambah," ucapnya.

    Gatot juga harus mampu menyatukan suara partai politik pendukungnya. Apalagi jika nanti ada partai pendukung yang tidak menerima pencalonan dirinya sebagai wapres ketika dipasangkan dengan Jokowi dalam pilpres 2019.

    Baca juga: Survei Pemilu 2019: Resep Jokowi  Kalahkan Penantang Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.