Sidang Ahok, Hakim Tegur Polisi: Nggak Usah Ketawa

Selasa, 17 Januari 2017 | 13:17 WIB
Sidang Ahok, Hakim Tegur Polisi: Nggak Usah Ketawa
Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat menjalani persidangan Lanjutan dugaan penistaan agama di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, 17 Januari 2017. Sidang kali ini, akan kembali menghadirkan sejumlah saksi dari pelapor. Di antaranya Ibnu Baskoro, Iman Sudirman, dan Muhamad Asroi. Resa Esnir/hukumonline.com/POOL

TEMPO.CO, Jakarta - Hakim Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Dwiarso Budi Santiarto, menegur Brigadir Polisi Satu Ahmad Hamdani, anggota Kepolisian Resor Kota Bogor yang menjadi saksi dalam sidang dugaan penistaan agama atas terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. "Saudara polisi yang tegas. Enggak usah ketawa-ketawa," kata Dwiarso dalam sidang yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 17 Januari 2017.

Ahmad Hamdani adalah polisi yang mengetik laporan dari Willyudin Abdul Rasyid Dhani, pelapor Ahok. Dia dihadirkan ke persidangan untuk diminta klarifikasi atas dugaan salah pengetikan. Sebab, Willyudin mengaku menonton video kejadian Ahok yang mengutip Surat Al-Maidah itu pada Kamis, 6 Oktober 2016. Tapi, dalam berita acara pemeriksaan polisi yang tertulis adalah Kamis, 6 September 2016. Padahal, 6 September menunjukkan hari Selasa. Selain itu, peristiwa Ahok mengutip Surat Al-Maidah juga terjadi pada 27 September 2016.

Willyudin juga menjelaskan bahwa dia meminta polisi untuk mengoreksi tanggal tersebut. Selanjutnya, Dwiarso meminta tanggapan kepada Ahmad. "Dia (Willyudin) bilang mengoreksi tanggal 6 September menjadi 6 Oktober. Menurut yang saudara alami?"

Baca: Sidang Dugaan Penistaan Agama Tiap Selasa, Ahok: Pusing Saya

Ahmad pun membenarkan adanya permintaan koreksi. Dwiarso menanyakan lagi, mengapa tanggal kejadian itu masih salah. Ahmad pun tampak ragu untuk menjawab. "Saudara sudah disumpah. Kalau enggak tahu ya ngomong enggak tahu. Enggak harus sesuai. Yang saudara alami masing-masing kami uji di sini. Saudara tadi katakan setelah selesai di-print disodorkan ke pelapor. Apakah koreksi termasuk tanggal?"

Ahmad pun menjawab kurang mengetahuinya. Sebelum hakim menyudahi kesaksiannya, Ahmad ditanya lagi soal ada atau tidaknya koreksi tanggal 6 September menjadi 6 Oktober. Ia menjawab, "Saya tidak ingat."

Baca juga: Ahok Laporkan Habib Novel, Ini Alasannya



Willyudin sendiri juga tidak mengecek kembali waktu kejadian dalam laporan baru yang dicetak lagi. Ia sudah yakin benar setelah melihat laporan di komputer polisi itu sudah dibetulkan. "Saya lihat di monitor sudah betul 6 Oktober. Terakhir itu saya tidak baca karena yakin sudah benar," kata Willyudin.

FRISKI RIANA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan